Melobi Gusti a la Santri

melobi-gusti-ala-santri

Oleh : Muhammad Nasrul Jamil

Di dalam tradisi santri, yang biasa dilakukan dan seringkali kita jumpai adalah majlis zikir. Majlis ini merupakan ritual keagamaan sebagai salah satu wujud syukur kepada Yang-ilahi, atas anugrah nikmatNya. Majlis ini di dalamnya terdapat bacaan-bacaan yang intinya mengajak manusia untuk selalu mengingat AsmaNya dan menyadari keberadaanNya. Fungsinya untuk memposisikan-diri sebagai hamba (‘abd). Hal ini penting mengingat tugas utama seorang ‘abd adalah mematuhi dan mentaati semua perintah dan larangan yang telah ditetapkan oleh Yang-ilahi.

Sebagai Wujud yang sempurna, segala bentuk puja dan puji hamba ditujukan kepadaNya. Hal ini ditempuh dalam rangka menjaga diri hamba agar senantiasa berada di dalam naungan ridho dan rahmatNya. Akan tetapi hubungan antara kawula dan Gusti ini bersifat rentan dan tidak stabil. Maka, untuk menjaga hubungan ini diperlukan suatu perantara yang memiliki status kedekatan dengan Yang-ilahi. Kita menyebutnya: wasilah.

Contoh kebiasaan yang sudah membudaya, antara lain, adalah walimahan seperti walimah ‘urs (pesta pernikahan) ataupun walimah tasmiyah. Para pendahulu kita (salafunas sholih) menganjurkan untuk menggunakan sarana (tawassul, توسل) dengan keberadaan spiritual para kekasih Tuhan. Kita menyebut mereka: “awliya”.

Cara paling sederhana dalam bertawassul itu adalah dengan menghadiahkan bacaan surat al-fatihah, dan bisa menjadi lebih kompleks dengan tambahan-tambahan berupa kalimat-kalimat suci (atau “kalimat thoyyibah” seperti tasbih, solawat, tahlil, dll). Ritual tawassul inilah yang, ketika dibakukan dalam tradisi kultural, dikenal juga dengan “tahlilan”.

Tawassul lain juga digelar dalam bentuk pembacaan “biografi suci para kekasih ilahi”. Biografi orang suci, atau yang secara teoretis disebut juga “hagiografi”, memang lazim menjadi bagian dari ritus relijius manapun, tak terkecuali tradisi islam sufistik. Kisah dan riwayat hidup mereka secara tradisional lazim dikenal dengan istilah “maulid” dan “manaqib”. Bedanya, jika “maulid” secara khusus berisikan biografi Kanjeng Nabi Muhammad. Sedangkan “manaqib” berisi biografi suci para wali. Pada umumnya yang kita kenal adalah manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani, meskipun ada juga manaqib wali lain tetapi tidak begitu populer.

Tawassul merupakan cara kita memohon kepada Gusti dengan melibatkan figur-figur suci–para kekasih Tuhan–tadi dengan harapan agar permohonan kita diperhatikan oleh Gusti Allah. Bagaimanapun yang namanya kekasih itu memiliki kedudukan istimewa di sisi Sang Pengasih (Allah).

Yang menarik, hubungan antara kawula dan Gusti yang tercermin dari tradisi tawassul ini tidak meninggalkan hubungan dengan sesama kawula (sosial). Maka tak heran jika ada sedekah dan jamuan-jamuan hidangan. Pentingnya hal ini sudah sejak jaman dulu dianjurkan oleh para pendahulu kita yang saleh. Baik di acara syukuran maupun acara berkabung yang berkaitan dengan kematian, sedekah hampir tidak pernah ditinggalkan.

Tradisi memberikan sedekah saat digelarnya doa bersama untuk arwah orang yang meninggal ini lazimnya sejak hari pertama sampai tujuh harinya. Disambung saat hari ke-40, lalu hari ke-100 hingga 1000 harinya. Bahkan ritual “kirim doa” untuk arwah dilakukan setiap setahun sekali (haul), bisa dalam bentuk kecil-kecilan yang digelar oleh keluarga ataupun secara massal besar-besaran jika yang meninggal itu tergolong orang yang diistimewakan di masyarakat, kiai misalnya.

Sebenarnya tradisi di atas memiliki dasar narasi doktrinal. Sebuah riwayat mengkabarkan bahwa doa yang dilakukan secara kolektif (jama’ah) bersama 40 orang itu sama halnya dengan doa seorang wali (kekasih Tuhan) yang tentunya mustajab (dikabulkan). Dari tulisan di atas kita bisa simpulkan bahwa bertawassul itu ajaran dari para pendahulu kita agar jalan menempuh tujuan Anda dipermudah.

Rembang, 12 Maret 2017

Leave a Response