Nyeruput Bid’ah #1

nyeruput-bidah-bagian-pertama

Oleh : Dzulfikar Sholeh

Dewasa ini kita sering mendengar kata “bid’ah”. Bukan hanya saat pengajian dan ngaji, terbawa pula di sela-sela jagongan–sambil menyesap kopi. Bukan hanya dalam suasana serius dengan konsepsi yang ribet dan bertele-tele, tapi juga dalam suasana gojeg guyon khas santri.

Kita lebih sering dihadapkan pada konsepsi “bid’ah” yang terdengar dan terbaca secara “miring”, dengan intonasi miris yang bernada sinis. Hal itu terutama ketika kata “bid’ah” diutarakan secara serampangan, yang ditujukan kepada lawan. Inilah konteks dimana kata “bid’ah” sudah masuk dalam ranah “jadaliy” alias perdebatan. Polemik, tepatnya.

Di sini yang menjadi masalah adalah saat “bid’ah” dijadikan senjata ampuh bagi sekelompok ummat Islam untuk “maidu” mereka yang berpaham Aswaja. Kita sendiri kaum santri yang memeluk aqidah Aswaja mengambil dalil dari Al-Quran dan Sunnah sebagai landasan ilmu, juga ijma’ dan qiyas para ulama sebagai ancer-ancer dalam keyakinan aqidah.

Yang memprihatinkan, sekelompok umat Islam menggunakan kata “bid’ah” dengan tafsiran yang keliru. Dan lebih fatal lagi, saat tafsiran keliru itu digunakan untuk mengkritik aswaja, tepatnya aswaja an-nahdhiyah.

Polemik berpangkal dari gagal-pahamnya mereka terhadap hadits “kullu bid’atin dholaalatun wa kullu dholaalatin finnar”: setiap sesuatu yang baru adalah sesat, dan semua yang sesat akan masuk neraka.

Mari kita menengok pada kata “bid’ah” yang secara bahasa berarti “sesuatu yg baru”. Kata tersebut diucapkan kanjeng Rasul SAW. Maksudnya, secara umum, segala sesuatu yang tidak ada di zaman Rasul SAW disebut bid’ah. Misalnya mobil, handphone, internet, dan lain-lain.

Lalu apakah contoh-contoh itu termasuk bid’ah yang sesat? Dan penggunanya akan masuk neraka? Misalkan pesawat, jelas ia terhitung bid’ah. Tapi bukan kategori sesat, tentu saja. Padahal pesawat adalah sarana transportasi bagi banyak umat muslim di berbagai belahan dunia untuk pergi haji ke Baitullah. Jika pergi haji adalah wajib, maka sarana itu hukumnya niscaya: tidak bisa ditinggalkan. Disinilah kaidah fiqih yang berbunyi “ma la yatimmu alwajib illa bihi fahuwa al-wajib” diberlakukan untuk menentukan hukum perkara tersebut.

Simpelnya, saat perkara wajib tidak bisa sempurna dikerjakan tanpa sarana tertentu maka penggunaan sarana menjadi niscaya. Dengan kata lain, secara logis kita mesti memahami ada juga bentuk-bentuk bid’ah yang sifatnya wajib. Dalam logika fiqih, sudah barang tentu ada bentuk bid’ah lain yang sifatnya sunnah, disamping ada pula yang makruh, mubah dan haram.

Dalam pengertian terminologis (ishthilakhiyyan/syar’an), banyak ulama yang mendefinisikan bid’ah sebagai “thoriqotun fiddiini mukhtaro’atun tudlohii assyarii’ata yuqshodu bi suluukin ‘alaihaa almubaalaghotu fitta’abbudi”. Yang artinya…ah, sudahlah. Sementara kita sudahi dulu sampai disini, kita lanjut edisi depan.. :*

Leave a Response