Orde Bingung

orde-bingung

Oleh : Fakhir Tashin Baaj

Tengah malam tetiba saja tubuhku terjaga atau nglilir (terbangun) dari tidur lelap dengan alasan yang sepenuhnya belum kuketahui dengan pasti. Padahal seperti biasanya, sepertiga malam terakhir seperti ini hanya otakku saja yang bekerja lebih keras memproduksi blockbuster ‘dream’ movie untuk yang ketiga kalinya sepanjang malam. Atau dengan Bahasa yang lebih simple, mimpi. Sementara tubuhku hanya aktif sesekali bergeser ke kanan dan ke kiri. Mungkin agar tidak kram. Siapa peduli, toh aku juga sedang terlelap.

Anyway, yang pasti untuk malam ini aku tidak tertidur seperti malam-malam sebelumnya. Dan sampai paragraf ini ku tulis, alasanku untuk terjaga masih belum kuketahui. Padahal seperti yang kudiagnosis sendiri sebelumnya, riwayat kesehatanku menyebutkan bahwa diriku terkena penyakit : nempel-bantal-tidur-niosis. Yang mana artinya, asal ada bantal, di manapun tempatnya, pasti tidur. Penyakit ini seperti kanker yang belum ada obatnya untukku. Tapi yasudahlah, apapun alasannya aku tak peduli, biarlah sejenak kunikmati kesunyian di tengah dunia yang tak berhenti berbicara, ah maaf, berteriak.

Panorama subuh yang elok ku kira masih lama untuk menyapa dunia. Hingga akhirnya kuputuskan ‘mengisi’ ketertidak tiduranku untuk melakukan curhat vertical dengan Dia Yang Maha Tak Pernah Tidur. Well, apapun ku perbincangkan denganNya. Apakah Dia menjawab ? Of course, He do. Apa yang Dia katakana ? sebaiknya yang satu ini hanya aku sendiri yang tahu jawabannya – dan tentu saja Dia.

Tapi, kenapa aku menggunakan kata ganti ‘Dia’, ya ?

Hal itu berarti mengganti kata Tuhan dengan kata ganti ‘orang’ ketiga : Dia. Padahal yang aku lakukan adalah sesi curhat dua kutub, dua pihak,  two parties, tak ada pihak ketiga. Yang aku lakukan berbicara intens empat mata, bukan majelis yang jumlahnya harus ganjil. Penggunaan kata ganti orang ketiga malah menjadikan Tuhan sebagai pelengkap, padahal kenyataannya Tuhan adalah ‘organ’ terpenting. Seharusnya kata ganti Tuhan menggunakan kata ganti orang kedua : Engkau. Tapi ya gak apa-apa, tinggal bagaimana enaknya orang saja. Toh juga ini pikiran iseng orang yang sedang nglilir. Maafkan hambaMu yang hina ini, Engkau Yang Maha Mengampuni.

Malam sudah mendekati akhirnya, pikiranku melayang-layang ke semua sisi kehidupan sebagai ganti tak adanya kehidupan lain yang bisa diajak berkomunikasi oleh inderaku. Hingga suatu ketika, otak abu-abuku yang konyol merasakan ada sesuatu yang ganjil. Tentang bagaimana kita  sebagai bangsa Indonesia kehilangan kemampuan menganalisis suatu peristiwa. Istilah simplenya, bolehlah aku katakan, kemampuan untuk peka. Namun tentu saja peka yang objektif, bukan subjektifitas belaka.

Apa dasar yang kupunya, sampai-sampai dengan sebegitu kurang ajarnya men-judge seluruh masyarakat Indonesia kehilangan kemampuan untuk peka. Well, mungkin bukan seluruhnya, tapi sebagian besar. Dengan segala kerendahan ilmu dan tingkah, hal ini semata-mata hanyalah ungkapan dari rakyat kecil yang menyadari adanya sebuah peristiwa yang ganjil. Rakyat kecil yang, biar aku tekankan lagi, nglilir.

Okelah, jikalau kemampuan untuk peka dirasa menyakiti perasaan seluruh bangsa Indonesia, anggap saja kita ini sedang, bingung. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, beberapa orde telah dilalui bangsa ini selama beberapa generasi ke belakang. Dimulai dengan orde lama di bawah pimpinan Soekarno, berlanjut ke orde baru bersama pak Harto. Hingga tragedy ’98 menyebabkan lengsernya orde baru dan berubah menjadi Reformasi. Mungkin sebagian orang masih menganggap sekarang ini bangsa Indonesia masih melalui orde Reformasi. Bagiku sih enggak. Bangsa kita tercinta sekarang ini masuk ke Orde Bingung, Bingung, kan ? Makanya.

Tapi apa yang dibingungkan ?

Tanpa kita sadari kita itu sudah bingung dengan hidup kita dalam masyarakat berbangsa dan bernegara Indonesia. Soekarno, Proklamator Kemerdekaan RI, sang singa podium pernah berkata dengan tegas, “ bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.” Tapi lihatlah kita sekarang. Kita sudah tidak tahu apakah Soekarno itu pahlawan atau tidak. Sudah jelas dia sebagai orang paling berpengaruh bagi negeri ini, tapi hari-hari terakhirnya berada di pengasingan.

Sementara ini, kita juga masih sangsi apakah Soekarno itu, maaf, bapaknya koruptor atau beliau justru menjadi juru selamat bangsa. Jika saja Pak Harto dicaci karena jumlah korupsinya yang merugikan aset bangsa, namun tidak bisa dipungkiri bahwa selama kepemimpinannya banyak sekali kemajuan-kemajuan yang dialami oleh bangsa Indonesia di berbagai sektor melalui Repelita-nya. “ Piye kabare ? Enak jamanku tho ?” Tentu saja idiom tersebut bukan tanpa sebab terpampang di poster-poster dengan foto senyum Pak Harto melekat bersamanya.

Yang paling membingungkan tak lain dan tak bukan adalah Gus Dur. Bangsa ini benar-benar dibuat pusing dan bingung dengan Beliau. Manusia kontroversial yang kerap depersamakan dengan sosok Semar dalam pewayangan. Kita sudah sangat buta apakah Gus Dur benar-benar Satriyo Piningit atau memang hanya manusia penuh kontroversi yang beberapa keputusan kontroversialnya memaksa MPR turun tangan untuk menurunkannya. Ada yang bilang bahwa pemikiran Gus Dur terlampau visioner ketimbang rakyat Indonesia. Tapi mengapa beliau yang katanya Wali ke 10 itu diturunkan dari jabatannya ? “dari pada bingung mikir, ya gak usah dipikir. Gitu aja kok repot.” Barangkali hal itulah yang akan diucapkan oleh Gus Dur melihatku menulis kegusaran hati ini. Tentu saja jika beliau masih ada diantara kita.

Untuk semua ‘pahlawan’ Indonesia, Al-Fatihah . . . . .

Secara umum kita sudah bingung siapa yang harus kita sebut sebagai pemimpin, wakil rakyat dan sebagainya. Memang benar secara harfiah para wakil rakyat dan pemimpin adalah yang kita pilih sebagai wakil dan pelayan rakyat, tapi kenapa kerjanya justru bikin riweuh rakyat. Rakyat sudah bingung, padahal pangkat Rakyat lebih tinggi dari pada Wakil Rakyat, namun justru rakyat diberikan peran sebagai budak dalam bernegara.

Hingga pada akhirnya di alam kubur nanti, ketika malaikat Munkar dan Nakir menanyai rakyat Indonesia yang telah wafat.

“ Siapa Tuhanmu ?” tanya malaikat.

“ Allah SWT.” Jawab si rakyat Indonesia dengan tegas.

“ Siapa Rasulmu ?” tanya malaikat lagi.

“ Muhammad SAW.” Jawab si rakyat dengan tegas lagi.

Kemudian malaikat bertanya, “ Siapa ulul amrimu (pemimpin) ?”

“ . . . . . ” si rakyat tak menjawab. Ragu.

Lagi-lagi kita bingung, bingung dan bingung.

Kita bingung apakah TKI dan TKW itu pahlawan deviden ataukah sosok yang memperburuk wajah bangsa di luar negeri. Kita sudah tak tahu lagi apakah JIL itu benar-benar melenceng dari ajaran Islam, sedang kehidupan beragama kita masih jauh dari sempurna bahkan lebih melenceng dari JIL. Kita sudah dibutakan bahwa beasiswa pendidikan itu untuk menambah uang jajan, sehingga mereka yang benar-benar butuh dana pendidikan terkadang masih mengemis kekurangan.

Dan yang terakhir, bukanlah kita semua sudah sadar samar dan bingung apakah kita ini masih ‘manusia’ ?

Sayup-sayup, adzan subuh telah berkumandang dan membuatku sedikit tersentak. Maklum, sedari tadi hanya suara tik-tak keyboard laptop yang menemaniku. Sebelum rasa kantuk datang menyerang, sesegera mungkin kulangkahkan kakiku untuk kembali menghadap Engkau Yang Maha Terjaga. Namun sejenak langkah kakiku terhenti, sepertinya aku sudah tahu kenapa aku terbangun tengah mala mini. Mungkin Tuhan menginginkanku untuk menuliskan kebingungan yang aku alami dan mengambil hikmah dari apa yang kupikirkan.

Atau aku hanya kebelet pipis, ya ? who knows.

Depok, 17 April 2014

Leave a Response