Tari Sufi: Ekspresi Cinta Sufi Mbeling

Ekspresi Cinta Sufi Mbeling

Oleh: Muhammad Tijany

Ada satu hal yang tak bisa dilepaskan saat menelusuri jejak-tradisi para sufi, yaitu cinta. Di dalam tasawuf, memang, cinta adalah prinsip. Dari berbagai macam ekspresi dan manifestasi ajaran sufi, hampir kesemuanya berporos pada cinta. Romantis memang. Seorang sufi, jika gagal dalam mengartikulasikan cinta, terancam akan menjomblo secara mistikal seumur hidupnya.

Dalam suasana yang diwarnai pekat oleh cinta, para sufi menghasilkan banyak ekspresi yang kompleks dan kaya. Tak dipungkiri, karena itu, jika tradisi sufisme dianggap berperan besar dalam memperkaya khazanah kebudayaan Islam. Ada puisi dan prosa, musik dan tari; itu belum termasuk tradisi pemikiran, ajaran-ajaran falsafiyah dan kesusateraan pada umumnya.

Di antara tradisi sufistik, ada satu yang unik: menari. Konon, secara metodis, menari di kalangan sufi bermula dari tarekat yang dibesut oleh begawan sufi asal Turki: Maulana Jalaluddin Rumi. Syekh yang dikenal suka musik dan ujaran-ujarannya amat puitis ini namanya hampir tak bisa dilepaskan dari sufisme aliran “kasmaran”, yang menjadikan cinta sebagai poros-gerak kehidupan spiritual.

Tari sufi sebenarnya hal yang ekspresif. Fenomenanya bisa dikaitkan dengan beberapa situasi. Bentuknya variatif: ada yang muter-muter dengan posisi tangan sedemikian rupa, atau goyang-goyang sambil duduk bersimpuh (dalam tradisi tarekat sammaniyah) atau geleng-geleng kepala seperti yang biasa tampak pada wirid kolektif dalam tarekat terentu.

Menari, bagi sebagian pelaku jalan sufi, didorong oleh keadaan hati yang dilanda cinta. Biasanya spontan terjadi saat menyebut-nyebut nama Allah atau memuji-muji kanjeng Nabi Muhammad (Saw.), dalam majlis solawat misalnya. Artinya, menari dalam konteks seperti ini bukan menari sembarangan, ia bukan tarian eksotik atau erotik saat mengekspresikan kesenangan-kesenangan yang dangkal. Tari sufi, jika dipahami dari ajaran sufistik, bukan gerakan yang asal-asalan.

Bukan suatu fenomena sejarah jika tak menyulut kontroversi, termasuk tari sufi. Kontroversinya sudah muncul jauh-jauh hari sebelum Maulana Rumi. Fenomena “sufi menari” ini konon sudah ada sejak kemunculan para sufi generasi awal, setidaknya jaman Imam Junaid al-Baghdadi. Saat itu banyak ulama syariat yang mengajukan keberatan dan mengkritik kebiasan ini sebagai bid’ah. Sufi yang menari dianggap ekspresiasi yang lebay dalam menghayati keadaan mistikal (akhwal shufiyyah).

Banyak tokoh besar sufi lebih memilih sikap “berhati-hati”. Sebagian “no comment” dan sebagian yang lain menghindari sikap ceriwis melontarkan kritik dengan ragam alasan yang ndakik-ndakik.

Jika boleh diungkapkan, tari sufi lebih familiar di kalangan sufi “slengean”, yang berani mbeling dari aturan mainstream agama. Sekedar contoh sufi slengean: Mansur al-Hallaj. Di saat-saat ia mengalami “mabuk spiritual” (jadzab), sering ia melontarkan ungkapan-ungkapan mbeling. Saking slengeannya al-Hallaj, ia dihukum mati. Dan saat digiring ke tempat eksekusi, dia dengan riangnya menyanyikan syair cinta sambil menari.

Tentu tak semua sufi beraliran slengean. Disini ada kisah menarik, tentang sufi aliran “serius” yang melontarkan kritik terhadap kebiasaan menari. Namanya Syaikh as-Sulami. Orang ini punya nama besar di jagat dunia sufi. Selain karena karyanya berlimpah, juga menjadi rujukan para guru sufi dalam me-teorisasi-kan tradisi tasawuf.

Uniknya, keseriusan dan kekhusyukan Syekh As-Sulami ini mendadak buyar saat beliau didapati ikutan menari sufi. Saat itu di majlis zikir sufi, ia begitu gembira dilanda baper kasmaran tingkat dewa. Entah tahu dari mana, Syekh Abu Ali ad-Daqqaq menyuruh santrinya yang bernama al-Qusyairi untuk mengunjungi Syekh as-Sulami. Catatan: Al-Qusyairi ini kelak menjadi sufi besar, yang karyanya dikaji hingga di pesantren-pesantren di Nusantara: Imam al-Qusyairi. Penulis kitab mistik “al-Risalah al-Qusyairiyyah”.

Syekh Abu Ali al-Daqqaq memberitahu
Al-Qusyairi bahwa ketinggian ilmu dan derajat spiritual syaikh as-Sulami tidak membuatnya pantas menari, apalagi sampai dilihat banyak orang. Lebih baik bagi Syaikh as-Sulami duduk tenang tumakninah dalam tafakkur dan musyahadah.

al-Qusyairi diperintahkan untuk sowan menjumpai Syaikh as-Sulami. Sekaligus menanyakan kitab berwarna merah yang ada di sisi Syaikh as-Sulami. “Tolong bawalah kitab itu kemari”, perintah Sang guru.

Berangkatlah al-Qusyairi sowan kepada Syekh as-Sulami. Sebelum al-Qusyairi menyampaikan pesan gurunya, Syekh as-Sulami berkata:

“Ada seorang ulama yang biasa mengkritik kebiasaan menari [sufi], ternyata dia ikutan menari”. Al-Qusyairi lega. Dia tak perlu menyampaikan lewat lisannya mengenai pesan gurunya. Jelas sungkan banget bagi santri mengkritik seorang guru sufi.

“Hai murid”, kata Syekh as-Sulami, “aku sendiri sedang menghadapi persoalan, saat tak bisa menahan diri dari letupan keadaan, gembira sekali hingga akhirnya aku berdiri menari dalam suatu majlis dzikir. Begitulah keadaan para sufi saat menari”.

Sekali lagi al-Qusyairi lega ketika Syekh as-Sulami berkata: “bawalah buku warna merah itu, sampaikan kepada Gurumu. Itu buku puisi-puisinya al-Hallaj yang banyak kuambil inspirasi hikmahnya”.

Kisah boleh berakhir. Tapi tidak demikian cinta. Ia akan hidup mengiringi manusia menghidupkan sisi-sisi spiritualitasnya.

Muhammad Tijani, Aktivis komunitas ObrolanSantri dan Budaya Masyarakat Rembang

Leave a Response