Tasawuf dan Moral

Tercatat dalam sejarah tasawuf, sufi besar dari Mesir Dzun Nun al-Misri bertualang dan berjumpa dengan seorang Rahib.

Oleh : Muhammad Tijany

Tercatat dalam sejarah tasawuf, sufi besar dari Mesir Dzun Nun al-Misri bertualang dan berjumpa dengan seorang Rahib. Kepada Rahib, beliau bertanya: “apa itu cinta, menurut Anda?”. Sang Rahib menjawab, “cinta sejati tak mau di-dua-kan; kalau cinta sudah tertuju kepada Allah, tak ada lagi cinta kepada selain-Nya; jika tertuju pada selain Allah, tak mungkin dipersatukan dengan cinta kepada-Nya; maka renungilah dirimu pada siapa kau mencintai”.

Kisah ini menarik. Pertama, mengenai pertemuan dan perjumpaan dua orang spiritualis dari dua tradisi yang berbeda, antara Dzun Nun al-Misri dan seorang Rahib. Kedua, tentang cinta. Uniknya cinta, ia membongkar tembok pembatas identitas keagamaan. Tidak mungkin seorang ahli fiqih bertanya tentang hukum fiqh kepada seorang pastur. Tetapi berkenaan dengan cinta, Sufi dan Rahib bisa sharing bareng. Javad Nurbakhs, seorang akademisi dan sejarahwan tasawuf mengungkapkan, bahwa di antara ciri utama tradisi tasawuf di awal abad ketiga Hijriyah adalah kecenderungan bersikap terbuka dalam toleransi beragama.

Ya. Sejarah tasawuf ialah sejarah umat manusia mengelola batinnya, menyuburkan aspek spiritualnya dalam koridor Islam. Tasawuf menghindarkan manusia dari bahaya laten “keretakan psikis dan eksistensial”, semacam keretakan yang berdampak pada tata etika dan moral perbuatannya.

Kisah Dzun Nun menginspirasi kita tentang bagaimana menghidupkan tradisi tasawuf untuk menerangi gelapnya dunia kemanusiaan pada hari ini, yakni: bagaimana mewujudkan kerukunan dan keseimbangan hidup manusia secara luas? Problem itu haruslah diatasi bukan hanya pada tataran permukaan tapi harus sampai ke akar-akarnya. Rukun damai tidak sebatas dikondisikan oleh motif saling mencari keuntungan melalui interaksi sosial, tetapi kesadaran bahwa kedamaian dan kerukunan umat tidak bisa diganti dan ditebus dengan apapun. Hal ini bisa dicapai melalui penghidupan-kembali atas tasawuf sebagai perawat sisi batin manusia yang ter-fundamental.

Tasawuf, seperti halnya fiqih dan ilmu kalam, bukan khazanah pencerahan yang turun begitu saja dari langit. Ia muncul, tumbuh dan berkembang, hidup berdenyut seiring perkembangan jaman. Dengan perkembangan itu, sejarah tasawuf mengalami perjumpaan yang akrab dengan kehidupan nyata yang dinamis, mewarnai-dan-diwarnai oleh kearifan-kearifan lokal yang warna-warni. Pembicaraan-pembicaraan di kalangan para sufi, baik secara lisan maupun tertulis dalam bermacam karya, secara tidak langsung memberikan jawaban bagi permasalahan kemanusiaan secara umum, tidak sebatas hanya problem keumatan (Islam).

Meski tak dipungkiri bahwa memang tasawuf itu milik Islam, yang berbeda dengan pengetahuan spiritual Kristiani atau yang lainnya, doktrin-doktrin yang dikembangkan para sufi memiliki derajat universalitas yang memadai bagi upaya mengatasi problem kemanusiaan.

Tasawuf adalah tata moral (التصوف هو الأخلاق), demikian seorang sufi menyatakan. Di awal-awal perkembangannya, tasawuf belum memunculkan banyak istilah khas, dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip asasi mengelola kalbu dan mata batin. Pada mulanya tasawuf lahir dari sikap “menarik-diri” dari banjir kehidupan duniawi yang alienatif dan manipulatif. Tujuannya adalah mendekati Yang-Hakiki. Asas “kembali kepada diri sendiri” inilah yang mendasari uniknya kesadaran moral para sufi. Bukan dalam pengertian kembali kepada diri-ego yang individualis dan sarat kepentingan pribadi, melainkan Diri yang tak mudah larut dan terombang-ambing oleh arus keduniawian yang dangkal.

Leave a Response