Bekas Tapak Sepatu Didada

bekas-tapak-sepatu-didada

Oleh : Ahmad Bisri Dzalieq

Aku tak begitu jauh mengenal sosok Harno, aku mengenalnya hanya sebatas pelanggan, setiap pagi Harno selalu datang di warungku, dan sarapan sebungkus nasi kucing di warungku, Harno tukang becak yang pendiam, dia tak banyak bicara namun banyak bekerja, dia bukanlah seorang yang bekerja cerdas, dia hanya tahu bekerja keras, mengandalkan otot kaki sebagai tumpuan hidupnya, bekerja sebagai tukang becak adalah anugerah yang tak ternilai baginya.

Pagi ini dia datang terlalu pagi, akupun masih membungkusi nasi-nasi yang masih harus dijual ke warung warung lain, dia makan satu bungkus begitu cepat

“sudah mbak, aku ngutang dulu ya!”

seraya berlalu tanpa memperdulikanku, aku diam saja toh dia sudah biasa ngutang, paling paling nanti sore ia bayar setelah mendapat rejeki.

Sesama tukang becak Harno tak begitu dekat namun dia sangat suka sekali jika dimintai bantuan. Aku pun suka meminta bantuan Harno untuk bantu-bantu bersihin warung atau paling tidak cuci piring, dia suka sekali jika di beri upah makan gratis. selama tiga tahun  aku kenal seorang yang bernama Harno,  tapi aku tak pernah sekalipun tahu  asal usulnya, dari mana dia, rumahnya dimana, yang pasti harno sudah menikah, dia ditinggal istrinya empat tahun yang lalu, aku tahu karena dulu dia pernah cerita sedikit tentang istrinya yang katanya bunga desa yang di idam idamkan setiap lelaki di desanya, kasihan harno  menikmati pernikahannya hanya tiga bulan setelah itu entah istrinya pergi kemana, ada yang bicara pergi ke Jakarta dan menjadi pelacur, ada juga yang bilang minggat karena tidak di nafkahi oleh Harno,  aku lihat sepintas tubuhnya  tak terluka sedikitpun, namun jika aku menatap matanya aku tahu, hatinya terpecah belah bercucuran darah, terluka parah sekali.

kadang kadang aku menjadi penasaran untuk melihat sesosok wanita yang telah mematahkan hati seorang laki laki yang tak berdaya ini. Konon katanya Harno menggaet bunga desa itu dengan bulu perindu, sebuah bulu merak yang ia dapatkan di suku dayak di Kalimantan. Aku paham.. mungkin harno terlalu cinta padanya.

Siang itu di perempatan kota pinggiran Rembang  yang terkenal dengan sebutan perempatan Zaini, karena disitu terdapat toko kelontong yang benama Zaini. Di perempatan itulah Harno mangkal, dipojokan trotoar kusam itulah ia menunggu rejeki datang.

Teman yang selalu menasehati Harno adalah pak Sulanji, seorang Polisi yang bertugas setiap pagi untuk mengatur lalu lintas karena ramainya anak anak bersepeda untuk sekolah, pak Sulanji akrab dengan Harno karena setiap pagi pak Sulanjilah yang membangunkan tidurnya, karena Harno setiap malam tidur di pos Polisi yang berada di pojokan perempatan Zaini.

Harno malang masih bersandar di jok kumal becaknya, bersendawa sambil iseng iseng mengisi TTS yang ia temukan tergeletak di trotoar. Rupanya hari ini nasib Harno tak begitu beruntung, seharian ini hanya tiga penumpang yang mau menaiki becaknya.

Pagi pagi sekali pak sulanji sudah  datang dan seperti biasa membangunkan Harno yang sedang dibuai mimpinya.

“No..No.Harno..bangun No ..sudah jam enam No..”

Harno terkejut, langsung di gulungnya sarung kumal yang menghangatkannya tadi malam, tanpa berkata Harno  langsung berlari menuju becaknya dan mulai menggenjot becak walau wajahnya masih kusut.

“Oa lahh tukang becak” gerutu pak Ji,  seraya memakai topinya dan mulai bertugas.

Dalam irama genjotan pedal becaknya Harnopun mengkhayal,

“ kapan aku menjadi seperti pak ji” batin Harno berkata, mencoba berangan angan sambil menikmati pagi yang indah untuk memulai babak baru dalam kehidupan seorang tukang becak. Dari kejauhan seorang wanita muda memanggilnya,

“pak ..pak.. becak!!” teriak seorang ibu muda yang mungkin ingin pergi ke pasar.

“mau pergi keman bu?” tanya Harno yang sedikit malu.

“pasar… ,” sahut ibu muda dengan tergesa gesa naik ke becak Harno

sebenarnya tak terlalu jauh, antara rumah ibu tadi dengan pasar, jaraknya tak ada satu kilo, mungkin ibu muda tadi malas berjalan kaki, karena  memang jalan menuju pasar menanjak cukup tinggi.

Setelah menggenjot tak terlalu lama, tujuanpun tiba, Harno disuruh menunggu, karena dia tak terlalu lama, dan minta diantar pulang lagi. Harnopun hanya iya iya seperti anjing yang takut pada tuannya. Sambil kembali berkhayal kesana  kemari, dirogoh sakunya, mencari cari rokok yang ia beli semalam. Ia meneruskan khayalannya tadi, “mengkhayal sambil merokok rasanya begitu nikmat  sekali “ guman harno seperti orang yang tak punya dosa.

Tepukan lembut ibu tadi membuyarkan lamunan indahnya.

“Ayo pak.. cepet”  lagi lagi ibu tadi tergesa gesa.

“ Oo iya bu silahkan”

pagar rumah ibu tadi sudah samar samar terlihat, Harnopun sudah tak sabar menerima upah.

“Nih tiga ribu, sudah yaa!”

Harno bersyukur sekali, pagi pagi sudah dapat tiga ribu. Harno begitu girang, digenjotnya lagi becaknya dan langsung menuju warung mbak Iis untuk mengisi perutnya yang keroncongan.

“Pagi ini gak ngutang lho”ujar Harno sombong.

“Kamu habis ngrampok Bank pasar yaa!” timpal mbak Iis sembarangan, sembari memberikan nasi bungkusan pada Harno.

“Karet bungkusnya jangan dibuang” sentak mbak Iis.

“Iya iya, sudah tahu” gerutu Harno sambil menjejalkan nasi ke mulutnya.

Setelah sarapan, ia menuju kamar mandinya mbak     Iis, untuk cuci muka. Dibasuhnya muka kusut yang dari pagi belum sampai tersentuh air.

Matahari yang angkuh  sudah mulai memanggang orang orang yang berkeliaran di jalan, begitu banyak aktivitas di sepanjang jalan kartini itu, dari mulai yang jual mendoan hingga yang menjual emas eceran. Sesosok Harno malang yang terselip diantara ramainya kota Rembang itu, membuat matahari makin enggan bersinar terang. Dari kejauhan di perempatan Zaini, terdengar riuhan orang orang yang berkumpul, entah ada apa. Harno dan becaknya mulai terusik untuk melihat kesana. Harno bingung setelah tahu bahwa yang berkerumunan itu adalah teman seperjuangannya. Ratusan tukang becak dari segala penjuru rembang berkumpul disitu, hanya Harno dengan santai tak ikut ramai ramai itu.

“Ada apa ini” celetuk Harno kebingungan.

Harno masih bingung dengan kawan kawannya itu, mereka membawa kertas kertas karton yang ditulisi, tapi entah tulisan apa itu. Kebingungan Harno tersentak oleh teriakan kang Sabar.

“Noo wooiii …ngapain kamu..ayo ikut”

“Ada apa tho kang… Kok tukang becak kumpul semua?” Tanya Harno untuk meredakan penasarannya.

“Gini No.., kita semua ini memperjuangkan nasib kita sebagai tukang becak”

“Memperjuangkan gimana tho kang?” Harno semakin bingung

“Ya memperjuangkan nasib kita, soalnya nasib kita semakin hari semakin ndak menentu, rejeki kita semakin susut, karena para penumpang kita lebih memilih naik kereta wisata, yang sedang musim ini, dari pada naik becak kita”

“Oalah gitu tho kang, Kalo begitu aku ikut” seru Harno dengan semangat yang memuncak.

Setelah bosan berada di perempatan,  ratusan tukang becak itu termasuk Harno mulai berjalan ke arah utara dengan maksud menuju gedung DPRD, mereka menuntut agar  izin beroperasi kereta wisata itu dicabut, karena dianggap oleh mereka telah mengambil rejeki mereka. Memang para penduduk setempat lebih suka menaiki kereta wisata untuk berpergian dalam jarak dekat, karena memang ongkosnya lebih murah, dan lebih cepat sampai tujuan.

Namun tak disangka, kedatangan mereka tak disambut dengan baik, ratusan tukang becak itu hanya sampai pada pagar halaman kantor DPRD. Dada dada kekar puluhan polisi menghantam kepala mereka, Harno ikut terseret dalam acungan kepalan kepalan tangan yang membuat bulu bulu merinding itu.

Setengah jam lamanya mereka berdebat dengan Polisi, keringat deras mengucur dari pori pori ratusan tukang becak itu. Aksi saling dorong terjadi antara tukang becak Polisi. Sengit sekali. Harno yang tak tahu apa apa, dengan semangat tinggi juga ikut mengoyak barisan manusia itu. Tak puas dengan aksi saling dorong, salah satu tukang becak mengambil batu dan melemparkan kearah kantor DPRD. Kaca pecah tak bisa dielakkan, melihat aksi itu, Polisi mulai mengambil jalan kekerasan, dengan menghantamkan tongkat tongkat padat ke arah tubuh orang orang tak berdaya itu, aksi pukul memukul dan pelemparan batu terjadi sengit sekali, aksi hingga berlangsung sekitar setengah jam, sampai akhirnya letusan senapan membubarkan kerumunan aksi itu. Semua tukang becak termasuk harno, semuanya melarikan diri, kerumunan itu buyar, semuanya mencoba menyelamatkan diri dari letusan senapan dan gebukan polisi. Tapi untungnya tak satupun tukang becak yang tertangkap oleh polisi.

Jarum jam mulai menunjukan ke angka dua, Harno lari menuju becaknya yang ia parkirkan didekat toko Jaya makmur, dengan genjotan kakinya ia langsung menuju warungnya mbak Iis,  ternyata disana sudah ada kang Min dan kang Sabar. Keduanya meredakan keringatnya dengan meminum secangkir kopi dan pisang goreng yang masih hangat . Harno tak ingin ketinggalan, ia segera memesan juga satu kopi pahit.

“Syukur kamu selamat No…” ujar kang Sabar sambil menyedot rokok lingtingannya.

“Iya kang, lari lari sampai keringetan begini..”

“Petugas petugas itu memang pada gila …gila semua!”  teriak kang Min mengungkapkan emosinya.

“Iya memang gila, orang pakai tangan kok dilawan pakai senapan, ya jelas kalah”  tutur harno menyahuti kang Min.

“ Lha kalian kalian ini sudah ndak punya kerjaan apa? Kok demo demo segala, kayak Mahasiswa aja. Lha wong yang Mahasiswa saja yang kuat kuat saja masih ada yang mati ee, apalagi kalian ini yang kerempeng dan sudah keriput, ya jelas KO”  ujar mbak Iis tak mau kalah.

“ Lho saya belum tua lho mbak, kang Min tuh dah ubanan!” Harno mulai membantah,

“Halah…. apalagi kamu yang punya badan balung thok, paling cuman bisa ngomong besar saja” ejek mbak Iis seraya membetulkan behanya yang agak mlorot.

“Apa!!…. Ketimbang sampeyan, perawan tua weeee…..!” Harno membalasnya lagi.

“Sudah sudah.. kalian ini ndak mencari solusinya malah bikin masalah baru, dah sudah “ kang Sabar mencoba menengahi.

Harno terdiam, mulutnya dikunci dengan pisang goreng yang masih tersisa. Semuanya terdiam, mencoba berpikir untuk mencari jalan keluar yang terbaik.

“ Sudahlah ..aku pulang dulu, nanti malam kita bahas lagi. Kita ketemu dirumahku. No … Min. bilangan sama kawan kawan yang lain suruh nanti malam kerumahku semua, bilang kita akan beraksi lagi besok” kang Sabar berucap sambil meneguk kopinya yang terakhir.

“Beres..!!!” keduanya serentak.

“Mbak aku mau diwarungmu sampai nanti malem, boleh ya..ya.., nanti tak bantuin cuci piring deh! “ ucap Harno merengek rengek, mencoba merayu mbak Iis, yang dari tadi cemberut seperti apem gosong.

“Terserah!!” bentak mbak Iis seraya melenggang kedapur dengan gelas gelas kotornya.

Kang Min pulang , Harno tertinggal sendiri diwarung reot mbak Iis. Perasaan gelisah  muncul di benak Harno menghinggapi dadanya dan meninggalkan ketakutan, ketika pak Ji datang, rupanya pak Sulanji juga ingin ngopi sekedar berbasa basi dengan Harno tentang kejadian tadi siang, sore ini pak ji datang namun sudah menanggalkan seragam kekarnya.

“Sendirian no?” pak Ji mulai berbasa basi sambil mencari cari mbak Iis yang sedang mencuci piring di belakang.

“Is…is… kopi is.. !!”  ujar pak Ji seraya mengambil bangku dan duduk bersebelahan dengan Harno.

Harno masih terdiam ia tak menjawab pertanyaan pak Ji, ia melongo campur takut dengan pak Ji”

“Kenapa kamu no?” ujar pak Ji.

harno berpikir dalam hati,  “Apakah pak Ji mau nangkap saya yaa, atau memarahi saya atas kejadian tadi siang itu” pertanyaan itu melayang di benak Harno yang semakin takut dengan tatapan mata pak Ji yang tak menentu.

“No .. hei., kamu ini ngapain tho.. Kenapa?  kamu takut tak tangkap, karena kamu tadi ikut eyel eyelan di DPRD sana , iya?”

kegundahan hati Harno mulai terjawab, dan ternyata pak ji sudah tahu kalo ia ikut dalam pertempuran tadi siang itu.

“ Ahh ndak papa pak, biasa saja, ngapain saya harus takut dengan bapak. Bapak kan temen saya” ucap Harno menutup nutupi ketakutannya.

“ Ya sudah kalo kamu ndak takut, besok kalo saya pakai seragam, kamu tak tangkap” pak Ji menakut nakuti Harno yang dari tadi serius.

“ Waduh, Sumpah ampun pak ampun…. saya ini orang ndak punya, saya Cuma disuruh kang Sabar ikut rame rame, tapi saya ndak ngelempar batu kok pak , sumpah ampun” Harno takut setengah mati.

Pak Ji juga ikut bingung,  kenapa Harno begitu takut sekali.

“ Tidak No  ..guyon  .no…!!” ujar pak Ji mencoba meredakan ketakutan harno.

Jantung Harno yang tadi megap megap kini berangsur reda, namun ketakutan itu masih ada, meskipun sedikit.

Lalu mereka bercerita panjang lebar, mbak Iis yang dari tadi nyuci piring ikutan nimbrung sambil membawakan kopi yang di pesan pak Ji..

“Kamu ini gimana tho Is..! bikin kopi, kayak bikin sumur, luaama buaanget” gerutu pak Ji dengan sedikit nada kesal.

“Gitu aja kok jengkel pak, nanti tak kasih diskon pisang goreng satu deh! Sahut mbak Iis yang dari tadi keringetan, habis nyuci piring.

Obrolan mereka bertiga hangat sekali, seperti saudara sendiri dengan sesekali di bubuhi ejekan yang membuat mesra pembicaraan diantara mereka bertiga. Senja orange mulai merayap menghimpit sore yang sudah hampir redup, pak Ji pulang, tinggal Harno dan mbak Iis yang masih bertahan di dalam warung. Adzan maghrib menggema, mbak Iis pergi ke belakang untuk sholat Magrib, meninggalkan Harno yang memang tak pernah sholat.

Harno kecil tak pernah merasakan kehangatan pelukan kasih sayang sang ibu, ibunya telah tiada sejak Harno kecil. Dari kecil hanya tamparan sang bapak yang selalu mengisi hari harinya, ia nikmati tamparan itu dengan kesabaran. bapaknya yang bajingan kelas coro mendorong Harno kecil untuk minggat dari rumah di usia belasan tahun. Harno turun dijalanan, berkerja menjadi loper koran, menjadi pembantu disebuah warung, hingga akhirnya ia menjadi seorang tukang becak, membangun rumah kecil dan menikah, namun malang, istrinya entah minggat kemana.Setelah istrinya minggat ia menjadi frustasi, dijualnya rumah berdinding gedhek  itu, ia kembali tidur dijalanan, entah sampai kapan ia akan begini.

“Mbak aku pulang dulu, udah jam tujuh nih,  aku harus cepet cepet kerumah kang sabar, dan mengabari kawan kawan”

“Berapa?” tanya Harno sembari merogoh rogoh dompet seperti orang kaya,

“Seratus ribu..!!” jawab mbak Iis sembarangan

“Ya udah!!” Harno lari menuju becak dan dengan sigap mengenjot pedalnya, tanpa memperdulikan mbak Iis

“Woii woii Noo… awas..kamu besok,, wong edan, wong gendeng!!” umpatan umpatan muncul begitu saja dari mulut mbak iis, karena kekesalannya.

Sambil berlalu agak jauh, harno berteriak.. “nguutaaang”.Mereka berdua seperti anjing dan kucing, selalu saja ada persoalan. Namun esoknya rasa jengkel itu hilang di terpa mimpi mimpi indah.

Lari becak harno yang seperti kura kura itu, sedikit demi sedikit akhirnya tiba di tujuan. Setibanya di rumah kang sabar, disana sudah ada banyak orang.

“Lha ini premannya datang” ejek Pak Di menggemparkan suasana dengan riuhan tawa.

Harno terdiam tak berkutik, ia tak membalas ejekan tadi, karena ia pikir kurang sopan jika mengejek yang lebih tua. Pak Di sudah cukup tua karena umurnya sudah hampir enam puluh tahun, namun masih aktif dalam menggenjot  pedal becak, kumisnya yang  njekethet membuat orang orang segan kepadanya.

Rapat pleno para tukang becak itu mulai dibuka, mereka membahas tentang aksi selanjutnya dengan visi dan misi yang sama yaitu dengan menuntut pencabutan izin beroprasinya kereta wisata yang membuat keluarga para tukang becak ini kurang gizi, karena pendapatan yang kurang. Pendapat demi pendapat bermunculan dari otak para tukang becak, hingga akhinya mereka menghasilkan kesepakatan, yaitu akan  terus melakukan aksi demo sampai izin itu di cabut oleh pemerintah. Harno yang dari tadi mengantuk sesenggutan tanpa berbicara, ikut saja dengan kesepakatan tadi, toh ia hanya ikut meramaikan saja, bagaimanapun harno tak paham dengan ini semua, menurutnya dengan ada dan tidak kereta wisata itu, tetap saja ia tak bisa kaya.

“Kang .. malam ini aku tidur dirumahmu, aku males ke posnya pak Ji, aku sudah ndak tahan pengen tidur” ujar Harno seraya menutup mulutnya dengan tangan karena menguap lebar sekali

“Yaa karepmu lah..,kamu pengen di kamar atau di depan TV sini, terserah kamu, asal jangan ngiler sembarangan” ucap kang Sabar ringan.

Tepat pukul jam sepuluh ratusan tukang becak sudah berkumpul di perempatan Zaini, masih seperti yang kemarin mereka membawa kertas kertas karton yang mereka tulisi keinginan mereka. Namun yang berbeda hari ini adalah massa mereka yang bertambah, bukan hanya tukang becak saja, namun mereka juga membawa istri istri mereka. Suasana begitu ramai membuat lalu lintas di perempatan itu menjadi terganggu karena banyaknya pendemo yang berkumpul disitu.

Setelah dikira cukup dengan aksi di perempatan Zaini, mereka mulai kembali berbondong bondong menuju kantor Bupati dan gedung DPRD yang hanya bersebelahan. Di gedung  itu sudah di dijaga ketat oleh tiga bataliyon Polisi huru hara, mereka berseragam tempur lengkap dengan pentungan, helm, dan tameng kaca anti pecah.

satu jam mereka berteriak teriak hingga serak di depan gedung itu, kang Sabar sang kordinator melakukan orasi orasi di depan mereka. Selama itu aksi mereka damai damai saja, tak ada adu fisik sedikitpun. Namun lama kelamaan para tukang becak itu bosan menunggu dari pihak pemerintah untuk mengklarifikasi tentang permintaan itu, tak satupun orang dari dalam gedung itu keluar. Teriakan mereka semakin mengganas dengan umpatan umpatan kasar yang keluar dari mulut tak tahu apa apa itu, para tukang becak itu terprovokasi untuk memaksa masuk dalam gedung itu, aksi saling dorong mendorong antara petugas dan tukang becak kembali terjadi. Ribuan kepala saling mendorong tidak terkecuali istri istri mereka.

Aksi dorong mendorong itu mencapai puncaknya tatkala pentungan kayu petugas menghantam salah satu kepala tukang becak, aksi pemukulan  itu jelas sekali memicu kemarahan para tukang becak lainnya. Mereka berbondong bondong membalas perlakuan itu, mereka menendang nendang melempar lempar apa saja yang bisa dilemparkan, petugaspun tak mau kalah mereka terus menghentakkan pentungan mereka sebisanya. Seorang petugas terluka parah karena terkena lemparan bekas lantai semen paving yang beratnya hampir setengah kilo. Emosinya diantara keduanya sudah tidak terkontrol lagi, tembakan gas air mata di semprotkan membuat buyar para gerombolan tukang becak itu, namun sebentar saja mereka kembali lagi menyerbu petugas itu. Gedung DPRD kokoh sudah terlupakan di benak mereka, yang mereka tahu hanyalah pembalasan dendam  pada petugas yang mereka pikir telah menyakiti mereka. Begitupun dengan petugas.

Bentrok fisik terjadi sangat sengit sekali, didua kubu sama sama ada yang terluka dan sama sama kuat, hingga sampai akhirnya peluru karet yang muncul dari laras hitam itu ditembakkan di udara, berkali kali letupan senapan itu terdengar,  tukang becak yang sadar tembakan sudah dilepaskan segera melarikan diri, satu persatu mereka lari ketakutan, mereka terbirit birit menyelamatkan diri sendiri, dan dengan bubarnya para tukang becak itu menandakan berakhirnya aksi perjuangan para tukang becak hari ini.

Seminggu berlalu setelah aksi tersebut tukang tukang becak jarang terlihat disudut sudut kota Rembang, mereka banyak yang  berdiam diri dirumah merenungi nasibnya. Warung mbak Iis menjadi begitu sepi, Harnopun tak kelihatan selama seminggu, hanya kang Sabar dan kang Min saja yang iseng iseng ngopi untuk melepas lelah.

“Is , Harno kemana kok nggak pernah kelihatan setelah ribut ribut kemarin?” ujar kang Sabar berbasa basi bertanya pada mbak Iis.

“ Iya…iya…dari seminggu ndak kelihatan, kemana orang itu?” mbak Iis berbalik bertanya

“Alah…… paling juga kecantol rondo kempling yang kesasar naik becaknya” sahut kang Min ringan

“Kamu ini ada ada saja kang, potongan kaya Harno mana ada yang mau” balas mbak Iis yang jengkel karena utang Harno belum dibayar bayar.

Obrolan senggang mereka sesaat terganggu oleh kedatang pak Sulanji yang masih mengenakan seragam dinas lengkap. Kang Min dan kang Sabar tak menaruh dendam pada pak Sulanji meskipun ia seorang Polisi. Mereka tahu, para tukang becak kemarin juga salah sudah bertindak kriminal. Dan juga pak Sulanji tidak ikut mengurusi permasalahan kemarin, pak Sulanji hanya bertugas mengatur lalu lintas setiap pagi.

“Assalamualaikum.” Ucap pak Ji sembari membuka kaca mata hitamnya.

“Waalaikum salam” sahut mereka bertiga serentak.

Mereka kembali mengobrol dengan akrab, namun pembicaraan mereka tak membahas tentang kejadian seminggu yang lalu. Mereka tahu, mereka masih sedih mengingat kejadian itu. Percakapan demi percakapan mereka lalui namun tak satupun yang kembali membahas tentang Harno, mereka seakan lupa hingga akhirnya mbak Iis berkata pada kang Sabar.

“Tuh tanya pak Ji kang ! mungkin pak Ji tahu dimana Harno sekarang, pak Ji kan yang selalu bangunin Harno setiap pagi”

“Lho saya kesini juga pengen menanyakan hal itu, sudah seminggu ini aku tak menjumpai Harno tidur di posku saat aku tugas pagi, memangnya kalian semua ndak tahu kemana perginya?” sahut pak Ji yang dari tadi menggaruki kepalanya yang hampir botak itu.

Rasa janggal itu merayap di dada mereka berempat, bahkan pak Ji sahabat paling dekat Harnopun tak tahu dimana keberadaannya sekarang. Setelah capek mengobrol mereka satu persatu pulang, tinggal mbak Iis sendiri yang saat ini tak ditemani Harno seperti biasanya.

Esoknya orang orang ramai ramai ke jembatan dekat rumah nya Haji Sukir, katanya anak yang berangkat sekolah tadi pagi melihat sesosok mayat tergeletak di bawah jembatan, diselokan hitam itu mayat tanpa baju terlentang dengan tubuh belepotan sampah. Orang orang tak berani mendekat hanya melihat dari atas jembatan, mereka tak mengenali wajahnya karena terkena lumpur yang menutupi wajah mayat itu. Akhirnya warga memberanikan diri mendekat ke mayat itu, diangkatnya mayat tak berbaju itu ke atas. Dan warga setempat mulai membersihkan seluruh tubuh mayat yang penuh lumpur itu dengan air. Mbak Iis yang kebetulan ikut melihat terkejut sekali, sekujur tubuhnya gemetaran, wajahnya pucat pasi, dadanya sesak setelah melihat raut muka yang tak asing lagi baginya, yang tak lain adalah Harno sang tukang becak. Harno tewas dengan luka luka di kepalanya dan didadanya yang membiru terdapat bekas tapak sepatu, seketika itu tubuh mbak Iis yang rapuh rubuh di aspal.

 

“KMSR” Jogja, 03 Juni 2004

Leave a Response