Ingin Jadi Siapa ? (Aku, Kau atau Mereka)

ingin-jadi-siapa-aku-kau-atau-mereka

Oleh : Ahmad Bisri Dzalieq

Mereka mencintaimu seperti layaknya aku mencintaimu. Akan tetapi mereka lebih berani berkorban ketimbang aku yang hanya menyimpan gambarmu. Ketahuilah, mereka itu mencintaimu, berusaha sekuat tenaga dan seluruh jalan di tempuh, seluruh kesabaran di pertaruhkan. Padahal larimu tak tentu arahnya. Padahal kau terlewat samudera biru. Aku  bingung  sendiri apa yang mereka cari darimu. Benarkah cinta? aku masih belum percaya jika memang cinta. Mereka terlalu pintar kalau hanya untuk mengurusi cinta. Bukankah memiliki yang di atas sudah lebih dari cukup?, hatiku semakin gagu, bingung harus kemana kakiku ini. Masih sama sama dalam harapan cinta yang belum jelas darimu. Atau mungkin cintamu mempermainkan dirimu?. Sibuk memilih daun daun yang tergeletak untuk dibakar sebagai pemanas tungku kerinduan akan cinta? Kira kira sudah berapa aku bertanya?

Mereka mempertaruhkan jiwa raga dan harta mereka yang ditabung setiap kali mereka menarik nafas. Hanya untuk mendapatkanmu. Sedangkan aku, paling paling hanya bermodalkan tidur tidur dan tidur, atau setidaknya menanyakan kabar lewat tulisan. Itupun kalau ingat aku masih mencintaimu dan barangkali setahun sekali. Mereka dan aku berbeda arah berbeda tanah. Mereka melangkah dengan pikiran yang dipenuhi harapan keajaiban dan hati  penuh bunga cinta yang sedang meletup letup. Tahukah kamu? Itu semua hanya untukmu. Mungkin kau kasihan dengan mereka dengan aku atau dengan siapa saja yang memperhatikan arah tuju tatapan matamu. Aku juga tahu kau begitu sangat baik, merawat sebuah perhatian dan langkah. Kadang kau disisi tembok itu, esoknya kau mengetuk ketuk daun pintu itu. Kadang pula lewat jalan belakang. Dan bahkan aku merasa perhatianmu begitu hebat, tak sebanding dengan mereka dan aku.

Meskipun aku tahu semua kisahmu. Aku tetap diam. Tak kulakukan pengorbanan seperti mereka sampai sampai bayanganku sendiri tak sudi mengikutiku. Betapa bodohnya aku ini. Tak mau berusaha keras mendapatkanmu. Mungkin Karena aku tak mau berlomba dengan mereka untuk berharap di pelukmu.

Aku berdiri tepat didepan cermin. Dengan kesulitan aku memandang wajahku. Timbulkan pertanyaan pertanyaan baru dalam otakku. Mencoba mengalah pada bayanganku.  Sampai tubuhku terasa berat dan serasa otakku dipenuhi namamu, cinta dan mereka. Bahkan dalam perjalanan, aku sempat menulis puisi untuk diriku sendiri. Hanya untuk menasehati diriku sendiri, betapa percintaan ini hingga harus memakan separuh hidupku, dengan bergulat dengan wajahmu yang fiktif dan  tak tentu. Aku melihat dari karya karyamu, melihat ketulusanmu lewat telanjang mata. Cemburu dengan sebelah mata. Semuanya menjadi alur waktu dan proses menuju sesuatu yang lagi lagi tak tentu. Kenapa kejelasan begitu hebatnya, mengalun dengan bait baitnya. Memastikan sesuatu yang tak pasti. Menjernihkan air keruh menjadi bening mengkilap seperti kaca. Menenangkan hati bergolak menjadi litir tak ada angin. Betapapun kejelasan begitu berarti, tapi aku melihat sedikit dari sisa sisa pancaran sinar matamu. Bahwa sesungguhnya harapan harapan itu tetap ada dan hidup, meskipun tanpa timbal balik dan sekedar kejelasan.

Lalu aku berbicara pada cerminku

“Hei cermin, tahukah kau seberapa besar cintaku?”

“Tak tahu tuan”

“Apakah kau tahu kadar cinta mereka terhadapnya?”

“Hmm… kurang tahu tuan”

“Dan apakah dia masih punya cinta untukku dan mereka?”

“Kalau itu saya tahu tuan”

“Cepat katakan cermin” aku semakin ingin mendengar ucapannya.

“Tuan, dia bukan hanya punya cinta, akan tetapi dia juga mempunyai rasa sayang, rindu, perhatian, sedih, bahagia dan sedikit kejelasan yang anda butuhkan”

“Kenapa Cuma sedikit cermin?”

“Sebab anda sendiri dan mereka juga tak jelas”

“Hei.. kenapa seperti itu, bukankah kau bilang kau tak tahu seberapa besar cintaku. Bagaimana kau bisa menyimpulkan aku tak jelas. Kau ngawur!”

“Maaf tuan”

Kehentikan semuanya. Aku tak sanggup menarik ulur waktu. Biarkan semua terjadi atas kehendakNya. Bukankah sang maha kuasa itu maha adil. Dan sekarang kubiarkan rahasiamu, kubiarkan diammu. Suka suka kamu dengan mereka atau denganku. Aku tak perduli. karenaku mereka menjadi benci terhadap diriku. Merasa ada  tembok penghalang yang cukup besar. Dan derap langkah kaki mereka tertahan. Aku sadari itu. Bagiku mereka hanyalah teman yang sama sama berjuang demi masa depan yang sangat jelas di mata.

Akan kukobarkan api bersamamu dan menghilang tanpa jejak. Di atas telaga yang mereka timbun setiap hari demi mencapai kesuksesan dalam bercinta. Setelah itu kau kuterjunkan bersama kejelasanmu dan kaupun akan bahagia selamanya.

Aku tanpa kesadaran melewati hari hari dengan sendiri. Tak kupungkiri aku butuh sesuatu disini. Seandainya ada keajaiban, mungkin aku sudah hidup secara teratur. Tapi apakah hidup yang sesaat ini harus terus bahagia?. Hingga mereka tak diperbolehkan untuk menikmatimu bersama. Aku semakin rindu dengan diriku yang dulu dan bukan sekarang tanpa kejelasan. Meski waktu begitu cepat berputar sampai aku tak sanggup untuk menggayuh jarumnya. Aku berdiri di tengah tengah anak jarum, sambil mengamati ia melewati angka satu sampai dengan dua belas. Aku terus mengamati tiada henti. Sampai jarum jarum itu berhenti dan mengembalikanmu disini. Karena banyak cinta ditanah ini yang menunggumu. Apa kau tak juga sedih melihat mereka merengek rengek di pelukan ibunya. Apa kau merasa kasihan. Melihatku tidur di tengah tengah jarum jam itu.

Detik berlalu begitu berharga. Membiarkan mereka merajut cinta bersamamu. Menyanyikan lagu lagu lama dan mendongengkan cerita cerita lama, seakan bernostalgia bersama waktu dan kenangan yang tertancap di hati. Kaupun senang saja mendengarnya, mungkin karena gratis. Atau karena tak bersusah payah mengingatnya, karena sudah ada yang mengingatkan ketika hendak melaju dalam pergulatan nafas dan kata. Begitupun aku, acap kali bersenandung dengan awan mendendangkan bulan dengan gitar. Memeluk kenangan itu di malam. Sendiri tanpa tubuh yang lain. Tanpa yang lain. Memang terdengar sangat egois, menikmati perasaan itu sendiri. Tanpa ada ungkapan yang di tuju. Terus begulat dengan perasaanku sendiri. Bersenang senang bersama kesedihan, sembari menunggu fajar untuk habiskan tangisan.

Dengan tergesa gesa mereka hendak mencarimu dalam gelap malam, setiap hari mereka saling berkumpul mereka selalu bertukar pikiran membicarakanmu. Ironisnya masing masing dari mereka malu membicarakan hubungannya denganmu. Mereka semua terus memujamu bersama sama, tanpa ada yang melukai, mereka kompak sekali jika berkumpul membicarakanmu. Setelah selesai, mereka pulang kerumah masing masing, mengatur segala strategi strategi picik untuk mendapatkanmu. Dengan menulis beberapa bait bait puisi, atau menciumi seluruh bayanganmu. Semua dipertaruhkan hanya untuk mendapatkan sisa sisa kejelasan itu. Aku menjadi iri dengan mereka semua. Mereka begitu bersemangat tatkala mendengar suaramu.

Mereka sangat antusias ketika lamunan indahnya bersamamu itu datang. Mencoba mengulang ulang masa lalu. Menemukan sedikit jejak tapak kakimu, dalam guratan tanah yang mereka sendiri sudah sangat malas untuk menginjaknya. Namun meski begitu mereka tak mungkin melupakan tanah yang telah membuatnya melambung dengan rona rona indahmu, dengan senyummu yang sempat kau torehkan meski dengan keterpaksaan. Aku sangat iri sekali. Kenapa aku tak bisa menjadi mereka? tak kuat seperti mereka?. Tubuhku semakin mengecil, seperti ada beton ber ton ton yang menindihku. Yang aku punya hanyalah keyakinan tanpa semangat yang pasti. Kadang muncul kadang pula ia menghilang tanpa sebab. Atau jangan jangan menghilang karena ada senyuman lain. Ah tidak mungkin. Aku terlalu kecil dan bodoh untuk mengharapkan senyuman dari jiwa jiwa yang berkeliaran mengitariku tanpa memperdulikanku. Tidak mungkin.

Berhari hari aku menikmati matahari pagi, tak seperti dulu. Mataku yang sayu tersiram sinar yang hangat mendamaikan. Disitu kutemukan titik tanpa jemu. Menghiasi berbagai tulisanku. Memunculkan bayangan. Sampai sekarang aku masih berpikiran, kalau-kalau  kau ada di ranjang disisiku, memberikan ciuman hangat setiap pagi. Ah itu hanya mimpi. Dan  bertahun tahun kau hanya mencumbuku dalam mimpi. Hanya menikmati kerinduan besama lewat mimpi. Bicaraku semakin ngawur. Sebaiknya aku tidur lagi untuk menenangkan otakku dari kegelisahan ini.

Terlalu banyak perbincangan yang kita torehkan, melewati terusan waktu. Menembus jarak ruang dan tempat. Sampai seringnya, kita tak merasa kalau sudah lama kita tak berbincang seperti dulu. Saat kau masih keras kepala, saat tak ada cinta di dadamu. Saat kau masih menjadi dirimu yg dulu. Apapun bentukmu aku dan mereka tetap mencintaimu. Karena senyummu sampai sekarang belum tergantikan.

Kembali dalam tatapanku ke arah mereka. Mengunci mulut membuka mata hati. Menafsirkan tingkah laku mereka. Tanpa bersusah payah mengawasinya. Aku terduduk di sebrang mereka, diam diam menguping obrolan mereka tentangmu. Mungkin mereka berpikir cintaku telah mati. Aku terus menguping. Obrolannya semakin terdengar mengasikkan. Tiba tiba aku hanyut dalam suasana itu. Bayanganmu hadir di mataku dalam puncak kesadaranku. Hei… aku menjadi seperti mereka, bukankah ini mengasikkan.

Aku tersenyum kecil membanggakan diriku. Hingga sampailah mereka pada perdebatan pengorbanan. Mereka sudah mulai berani bersaing secara terbuka. Menghancurkan lawan lewat apa yang telah ia berikan padamu. Mereka saling berdebat, masing masing menganggap dirinya yang paling banyak berkorban demimu. Sekejap bayanganmu hilang, aku tersentak. Senyumku menciut. Baru beberapa menit aku menjadi seperti mereka. Rasa itu tersentak hilang. Aku tak berani menguping lagi. Serasa tubuhku semakin mengecil, aku tak kuat. Aku menjauh dari mereka hanya beberapa meter, yang dirasa aku tak mendengar lagi obrolan mereka.

Aku menjadi sangat tak berarti dihadapanmu. Tak pernah punya pikiran, apa yang telah keberikan kepadamu. Mungkin saja karena aku sibuk sendiri dengan perasaanku. Tanpa memperdulikan perasaanmu, apa yang kau harapkan saja aku tak tahu. Tak mungkin aku seperti mereka yang begitu banyak berbuat sesuatui untukmu. Berkorban segala daya, untuk menyenangkanmu dan mendapatkan perhatianmu.  Bagaimana aku akan seperti mereka, berkorban saja aku tak tahu. Lalu apa yang akan kukorbankan untuk mendapatkanmu, seperti halnya mereka.

Dalam lamunanku beberapa  meter dari mereka. Dalam tatapanku yang kosong. Aku terus berpikir. Tiba tiba aku tersadar. Hei… bukankah mencintaimu itu sudah  sebuah pengorbanan.

Aku tersenyum…

Dan berkaca……

:Untuk mereka yang seperti aku, kamu dan mereka.

Brilliant, April 2006

 

 

Leave a Response