Kang Setiyoko Belajar

kang setiyoko belajar

Oleh: Ahmad Bisri Dzalieq

Lirih subuh menghantamku
mengenai serubuk jarum sukmaku
Lempeng demi lempeng meretas jauh dari ukiran nafasku
Lentera senja mengerjap ngerjap di bawah liontin permataku
Angin sayup lembut terasa haru berbaur di keningku . . . . .
Aku lupa semua . . . . . semuanya . . . . .

Sudah sekitar sembilan tahun lebih Kang Setiyoko mengabdi menjalani sebagai santri yang tawaddu’ namun juga ndableg. Setiap hari hanya kitab yang ia tekuni dengan penuh sabar dan telaten, Kang Setiyoko tak begitu perduli dengan apa yang terjadi disekitarnya, yang ia tahu hanyalah mengaji dan mengaji, tubuhnya yang kurus tak membuatnya malu jika sesekali kepanasan dan membuka baju di tempat umum.

Memang aneh, tapi itulah Kang Setiyoko. Kecintaanya pada kitab sudah menghabiskan beribu ribu keringat yang mengucur deras di setiap pori porinya yang senantiasa mengalirkan air suci perjuangan. Sebagai santri yang cukup di tuakan, Kang Setiyoko selalu menjadi panutan di setiap urusan-urusan. Ia selalu di libatkan dalam berbagai kegiatan, dari mulai rapat bulanan pengurus hingga lomba-lomba yanga diadakan setiap tahun ketika acara haul tahunan mulai akan diadakan. Kang Setiyoko tak pernah terlewatkan dengan masalah itu semua, pemikiran pemikirannya yang brilian membuat dirinya disegani santri-santri, Alfiyah yang nglothok di kepalanya tak membuatnya sombong. Ia selalu mengajarkan apa yang ia dapat dari berbagai kitab yang ia baca setiap waktu itu.

Pribadinya yang mengesankan membuat santri-santri putri terpesona oleh kharismanya. Tak jarang surat-surat cinta melayang pada Kang Setiyoko, puluhan santri putri menyukainya, malahan ada yang taruhan. Barang siapa santri putri yang dapat meluluhkan hati Kang Setiyoko akan di panggil “Ning” oleh santri-santri putri lainnya. Namun Kang Setiyoko yang suka menyendiri itu, tak begitu mengurusi soal asmara, baginya saat ini belajar dan belajarlah yang ada pikirannya. Namun santri-santri putri itu tak putus asa begitu saja. Berbagai kata-kata indah selalu dirangkai dan di persembahkan pada Kang Setiyoko seorang.

Banyak santri laki-laki lainnya yang begitu iri pada jiwa Kang Setiyoko yang selalu disukai banyak perempuan. Kang Setiyoko yang selalu rendah itu selalu membuat Kyai sangat kagum dengan prestasinya yang ia ukir selama sembilan tahun di pondok ini. Kang Setiyoko sering menemani Kyai pergi mengisi pengajian di tempat-tempat yang sangat jauh dari perkotaan, ia selalu setia melayani Kyai yang ia panuti, baginya mengabdi pada Kyai adalah segala galanya, suatu kebanggaan tersendiri. Selama ini, Kang Setiyoko yang sudah berumur tiga puluh masih tak memikirkan soal kapan ia akan menikah dan kapan ia akan bekerja mencari uang. Untuk dirinya sendiri atau untuk istri dan anaknya kelak. Menikah dalam pikirannya adalah nomor serratus sekian, yang utama baginya adalah beribadah dan mencari ilmu sekenyang kenyangnya.

Bangku tua dipinggir teras depan kamarnya yang selalu selalu menemaninya dalam menggapai cita-cita tak urung bosannya menatap Kang Setiyoko yang begitu tekunnya dalam menekuni setiap jengkal huruf arab yang terukir indah di kertas kuning yang sudah hampir kusam. Dua bola matanya yang terbungkus kaca-kaca bening seolah menuntunnya dalam mengarungi jalan-jalan indah yang terpampang di depan matanya. Rokok kretek tak bermerek yang selama ini mengisi kerongkongan dan setiap nafasnya masih membuatnya bisa bertahan dengan segala kelebihannya.

Siang sudah berganti malam menandakan sang bulan sudah menunggu untuk saat-saat sunyi untuk sendiri, merenung dan berdzikir kepadaNya. Hari-hari yang ia jalani sungguh sangat berarti. Kata demi kata tercipta dalam setiap mulutnya yang selalu melafadzkan syair-syair indah. Namun saying, semua rangkaian sajak indah itu tak pernah di dengar oleh satupun kaum hawa yang ada di negaranya ini. Mungkin jika saja semua orang dapat mendengar untaian-untaian kata-kata itu, dadanya akan berdetak keras, rasa kagum akan tumbul dari dalam hati-hati yang tak pernah tertoreh sajak-sajak merdu buana.

Kesendirian Kang Setiyoko yang sepi itu selalu mebuahkan sebuah inspirasi baru yang membuat semangat keingintahuan hati menjadi menggebu gebu. Kang Setiyoko tak jarang berdiam diri di kamar di atas sajadahnya. Jika sudah begitu tak satupun santri satu kamarnya yang berani masuk apalagi mangusiknya. Di bawah lampu lima watt yang temaram. Mulutnya komat kamit entah melafadzkan apa. Keheningan dibuyarkan oleh adzan subuh yang bergaung gaung di telinga. Setelah itu di akhiri dengan shalat jamaah. Kegiatan Kang Setiyoko ini tak pasti, kadang-kadang dia bisa tidur seharian main kartu remi dengan santri lainnya ketika masa liburan pondok.

Teman terbaik Kang Setiyoko selain kitab adalah rokok dan kopi. Baginya, kopi dan rokok itu saling berhubungan satu sama lain. Di kamarnya selalu tersedia kopi pribadinya, yang dibuat oleh santri-santri yang kagum padanya.

Suatu ketika. Pernah suatu kali ia di tanya oleh teman seangkatan, karena begitu kencengnya ia merokok.

“ Kang sampeyan ini kok ngerokok kaya kereta, ndak berhenti-berhenti. Padahal katanya rokok itukan setiap batangnya bisa mengurangi umur kita tiga menit, lho kang!.” ucap sang kawan dengan seriusnya menggurui Kang Setiyoko. Dengan santainya Kang Setiyoko menjawab.

“ Begitu ya kang ? Tapi kalo saya satu hari saja ndak ngerokok. Besok pagi pasti saya mati” seraya berlalu sambal memamerkan gaya ngerokok andalannya. Dihisapnya dalam-dalam rokok kretek tak bermerek itu . . . . .wusssss . . . . . di hembuskannya pelan, dan asap yang keluar hampir menutupi seluruh bagian wajahnya.

 *****

Dunia pondok sedang gempar. Ketika ada seorang santri putri yang nekat sowan Kyai dan mengatakan isi hatinya yang terguncang oleh segala kharisma Kang Setiyoko. Dengan harapan Kyai mau membantu agar menikahkan dirinya dengan Kang Setiyoko.

“ Kamu sudah siap lahir bathin, berani milih Setiyoko sebagai calon suamimu ?” tanya Kiai dengan nada menakut nakuti.

“ Nggih Kyai, saya sudah siap menanggung resikonya, asal kata hati saya terpenuhi. Dan perasaan yang menyiksa saya ini segera hilang.” Ujar santri putri dengan tegasnya. Karena dia sudah nekat mau apa lagi kalua bukan menjawab pertanyaan Kyai dengan pasti.

“ Tapi, semua itu kan tinggal Setiyokonya mau apa ndak, ya tho ?”. Aku ndak mau kalo di suruh maksa-maksa orang nikah. Itu bukan pekerjaanku.” Jawaban Kyai mengguncang dada santri tadi. Ternyata Kyaipun tak bisa banyak membantu. Lalu ia pamit dengan membawa harapan yang hampir kandas. Dengan segala keberaniannya dan seluruh perasaannya, masih saja sulit untuk mendapatkan seorang Kang Setiyoko.

Ia semakin bingung harus dengan cara apalagi untuk menggapainya. Semua jalan sudah ia tempuh, mulai kirim salam setiap hari, menulis untaian kata maut dalam surat, hingga nekat sowan Kyai untuk minta di nikahkan. Tetap saja tak berhasil. Dengan gusar ia mengambil handuknya dan bergegas ke kamar mandi. Setengah jam ia di kamar mandi, merenungi masalah perasaan yang dihadapinya. Diguyurnya kepala dengan air entah untuk yang keberapa kalinya. Terkadang dengan gusar ia celupkan kepalanya berkali kali kedalam bak air yang dindingnya sudah berlumut lebat. Tak terasa air matanya bercampur dengan air yang ia guyurkan. Matanya memerah melambangkan keputus asaan yang hebat.

Malamnya. Kang Setiyoko di panggil sang Kyai. Ia panik ada apa malam-malam begini di panggil Kyai, ia bergegas menyambar kopiah yang tergeletak tak jauh dari gelas kopi nya. Lama ia duduk dengan gaya takhiyyat awal. Menunggu Kyai selesai makan malam. Sudah hampir satu jam tetapi Kyai belum juga beranjak menemuinya. Kaki kakinya mulai kesemutan karena saking lamanya. Sesaat ia tersentak oleh gorden bergerak dan muncullah Kyai tercintanya.

“ Lama menunggu, ko ?.” Tanya Kyai basa basi, sambil memijit mijit rokok kesukaanya.

Mboten, Kyai.” tak banyak kata yang keluar dari mulutnya.

“ Begini ko, tadi sore ada santri putri yang minta tolong sama aku.”

Nggih. . . . . Kyai.”

“ Lho kok Nggih ?.”

Nggih Kyai . . . . . hubungannya sama saya apa Kyai ?.” Kang Setiyoko menjawab pertanyaan Kyai yang membingungkan.

“ Ya mesti ada, lha wong kamu tak panggil kesini, itu ya pasti ada hubungannya.” Jawab Kyai dengan nada sedikit kesal.

“ Tadi ada yang minta tolong sam aku untuk supaya dapat dinikahkan  sama kamu.”

Mboten, yi . . . . .“

“ Apa alasanmu nolak ?.” tanya Kyai semakin serius.

“ Saya belum siap Kyai, saya masih ingin belajar di pondok sampai saya cukup pintar benar menguasai ilmu agama. Saya belum siap, Kyai.” Dengan nada agak lirih Kang Setiyoko mencoba menjabarkan argumennya kenapa ia menolak tawaran untuk dinikahkan.

“ Ingat ko ! Umur kamu ini sudah berapa ?” sudah waktunya kamu mentas dan terjun ke masyarakat. Kamu mau belajar terus disini, ndak nikah-nikah . . . . . iya ?.” Tanya Kyai menasehati santrinya yang hampir saja pingsan karena kaget mendengar akan dinikahkan. Lama Kang Setiyoko diam, Kyai pun menunggu sampai ia membuka mulut. Dipandanginya karpet hijau itu dengan penuh pikiran.

Mboten, yi.” Kata itu lagi yang muncul dari mulut Kang Setiyoko. Ia masih tetap dengan pendiriannya.

“ Hmmmm . . . . . ya sudah, kamu ini di kasih enak kok ndak mau. Ya sudah.” Ucapan tadi mengakhiri pertemuan antara Kyai dan santri malam ini. Sang Kyai beranjak meraih gorden dan tak kelihatan lagi. Kang Setiyoko tinggal sendiri di atas karpet yang terbujur diantara kaleng-kaleng makanan kecil. Ia masih terdiam tak berkutik.

Sesampainya di kamar, Kang setiyoko masih berpikir dan merenung di pojok kamar. Lama ia terdiam tanpa kata. Ia sadar lalu beranjak ke tempat wudhu. Setelah shalat Isya’, ia tahu bahwa obat yang paling manjur selain sholat dan baca Al Qur’an adalah ngopi sepuasnya. Bergegaslah ia menuju warung kopi. Ia abaikan kopi yang biasanya di buatkan oleh anak buahnya. Ia ingin kopi yang spesial. Kopi susu terbaik untuk mengobati kebimbangannya.

“ Kopi susu yang paling enak satu pak.” Ucapnya jelas pada penjaga warung kopi sebelah pondok.

“ Pakai gula apa ndak Kang ?.” Tanyanya balik.

“ Terserah yang penting paling enak.” Jawabnya agak ngeyel.

Setelah tak lama menunggu. Kopi susu terbaik pun disuguhkan padanya. Ia aduk pelan larutan coklat keputih putihan itu, ia tuang perlahan ke dalam alas cawik kaca. Tak sabar menunggu panas hilang. Kang Setiyoko langsung menyambarnya. Rasanya beban di dalam dada langsung hilang semua. Terberai dan hanyut oleh larutan kopi yang menyesaki tubuhnya. Tiap tetes-tetes rasa yang ditimbulkan oleh cairan coklat keputih putihan itu ia rasakan sepenuh hati, lidahnya seperti tak henti hentinya merasakan manis kopi.

Suasana remang warung yang temaram, cerminan dari lubuk hati bimbang. Irama lagu kopi dangdut terasa nyaring di daun telinga. Kang Setiyoko semakin menikmati mabuknya. Tubuhnya jelas mabuk. Kepala, dada, hati, pikiran hingga mulutnya yang juga dimabuk resapan kopi. Seluruh urat nadinya larut oleh resapan kopi. Pikirannya yang bimbang ia bunuh seketika. Perbincangan yang mengguncang seakan terlepas dari ingatan. Kepalanya terasa enteng setelah di lewati cairan indah itu, setelah sebelum hampir menangis karena berbagai kalimat dan tanda tanya menyesaki kepala.

“ Sendirian aja kang ?.” Tanya sang penjaga mencoba akrab dan mulai membuka pembicaraan.

“ Oh . . . . . iya pak. Lagi pengen sendiri saja.” Kang Setiyoko menyambutnya dengan baik.

Babak baru perbincangan telah dimulai lagi. Kang Setiyoko dan penjaga warung mengobrol ngalor ngidul, mereka seperti sahabat lama yang berpisah puluhan tahun lalu berjumpa di persimpangan jalan. Keasyikan pembicaraan mereka tak terganggu sama sekali, hanya iringan radio yang speakernya sebesar lemari. Desir angin malam diseduh suara-suara jangkrik seakan ikut berbincang dengan dua orang itu. Mulai pertanyaan basa basi seperti tanya asal tempat tinggal, hingga permasalahan agama mereka bincangkan. Akhirnya obrolan mereka berujung pada permasalahan yang sama.

“ Sampean ini umurnya sudah berapa kang ?.” Kang Setiyoko terdiam sejenak. Kakinya lemas. Ia pandangi dua cangkir kopi susu yang telah dihabiskannya. Matanya setajam elang. Rasa gundah jelas sekali tertata di wajahnya. Penjaga warung mengeryitkan dahinya.

“ Ada apa kang ?.”

“ Ada yang salah ?.” Penjaga warung tadi mencoba bertanya lagi pada seseorang yang tadinya begitu renyah dan asyik berbicara, sesaat terdiam membeku. Bagai es di padang salju. Tak  mencair.

Penjaga warung menepuk pundak seraya berucap “ Kang . . . . . maaf bila pertanyaan saya tadi membuat sampeyan tersinggung.”

“ Ohhh . . . . . tidak pak.” Kang Setiyoko tersentak.

“ Ahhh tidak apa-apa pak, saya hanya teringat sesuatu saja. Sudahlah pak, ndak papa kok.”

“ Hmmm . . . . . tadi bapak tanya umur ya ?.” Kang Setiyoko bertanya balik, berpura pura tak mendengar pertanyaan, untuk menutupi gundahnya. Karena ia tahu, ketika bertanya umur, pastilah berujung pada masalah nikah. Dan dua cangkir kopi susu yang telah ia teguk sia-sia. Kemanapun ia pergi selalu dihantui oleh perasaan kikuk, untuk menjawab pertanyaan tentang nukah.

“ Ohhh. Umur saya tiga puluhan pak, ini sekalian kopi susu dua berapa ?.” Kang Setiyoko bergegas meninggalkan warung sekaligus teman ngobrolnya. Kang Setiyoko mencoba menghindari dan tak mau mengambil resiko lebih tinggi untuk berbincang mengenai nikah. Ia kembali menuju kamarnya. Kepalanya tertunduk memandangi tanah becek. Matanya mulai sayu, meskipun telah tertimbun dua gelas kopi susu.

Di kamar ia rebahkan tubuhnya yang lelah pada lantai semen yang mengkilap, karena seringnya terkena keringat. Pandangannya kosong tak berisi. Berkali kali ia pikirkan tentang persoalan nikah. Pertanyaan yang sama, pikiran yang sama terus berputar putar di kepalanya. Memenuhi seluruh otaknya. Kepala yang enteng begitu terlindas kopi susu, sesaat terasa berat lagi dan penuh oleh pikiran-pikiran yang hampir membuatnya susah untuk bernafas. Persendian seluruh tubuhnya terasa ngilu. Lemas tak berdaya. Ia mencoba menutup matanya. Mencairkan masalah yang ada. Membangunkan gairah hidup yang seharian tak mampu ia rasakan sama sekali. Kang Setiyoko tertidur dengan wajah pucat. Seribu kegundahan terlukis jelas pada setiap jengkal guratan wajahnya.

 *****

Nyanyian Subuh telah berkumandang, memekakkan telinga yang sedang dihinggapi malam, menyambar mimpi kelam. Kang Setiyoko tersentak. Dikuceknya mata yang penuh sisa-sisa mimpi. Bergegas langkahnya untuk mengambil air wudhu. Ia beranjak ke Mushola untuk jama’ah Subuh.

Matahari terbit terlalu dini. Bahkan Kang Setiyoko belum habis berdzikir. Matahari sudah datang menjemput hari baru. Matahari sudah mulai meninggi, tapi Kang Setiyoko masih berada di Mushola sendiri. Berdiam diri, berteman dengan sepi dengan di iringi nyanyian surgawi. Tubuhnya seperti mengangkasa. Melayang layang dengan lafadz itu.

Hari ini, hari Jumat. Hari perayaan ummat Islam setiap pekan. Ummat Islam di himbau agar tidak bepergian pada hari Jumat, karena di khawatirkan jika bepergian, nantinya berakibat meninggalkan shalat Jumat. Shalat Jumat sangatlah sacral. Bahkan para preman-preman kampung yang mengaku Islam, dan biasa bermabuk ria, berjudi. Tak ketinggalan dalam menunaikan shalat Jumat berjamaah di Masjid raya. Mereka berpedoman, walaupun berbuat dosa. Asal ikut shalat Jumat. Berharap dosa dosanya akan terampuni. Lucu sekali.

Kang Setiyoko berangkat ke Masjid raya agak dini. Sekitar jam setengah dua belas. Padahal biasanya khotbah Jumat dimulai sekitar jam dua belas. Shof tempat ia sholat tak pernah pindah. Kang Setiyoko selalu berada shof pojok paling depan, dekat bedug yang ketika di tabuh. Semua rasa di dada terhempas oleh suaranya.

Setelah shalat Jumat usai, dan para jamaah pulang dari Masjid. Kang Setiyoko kembali seperti saat di Musholla tadi pagi. Jiwanya larut dalam doa. Sampai akhirnya getaran mulutnya terhenti oleh sentuhan lembut di pundak kanannya. Matanya terbuka. Wajah menoleh. Ia tersentak kaget, penjaga warung tadi malam yang ia ajak mengobrol berada tepat di belakangnya. Penjaga warung tersenyum ramah. “ Kang.” Ucapnya lembut membasuh telinga Kang Setiyoko.

“ Oh . . . . . ada apa pak ?.” sahut Kang Setiyoko bertanya.

“ Tidak ada apa kok, hanya ingin menyapa saja.”

Mereka pulang dari Masjid raya bersama. Di sepanjang jalan tak henti hentinya mereka mengobrol. Namun Kang Setiyoko sudah tak resah lagi. Karena di sepanjang jalan penjaga warung hanya membahas tentang aktivitas-aktivitas apa saja yang dilakukan Kang Setiyoko di pondok. Di depan, papan nama pondok sudah terpampang. Penjaga warung berpamitan. Perpisahan seorang teman ngobrol.

“ Kapan-kapan kita ngobrol lagi kang. Assalamualaikum.”

“ Waalaikum salam.” Balas Kang Setiyoko merasa lega. Dengan pertemuan ini.

Seminggu sudah Kang Setiyoko tak pernah keluar dari lingkungannya. Di antara berderet deret kamar yang di huni ileh santri. Hanya kamarnya Kang Setiyoko yang sepi tak berpenghuni. Hanya Kang Setiyoko seorang yang sedang sibuk membaca kitab fatchul Mu’in. Santri yang biasa membuatkan kopi pun tak kelihatan. Lama kelamaan ia larut dalam buaian mimpi, terperosok jauh di alam khayal. Menjumputi satu persatu bagian yang hilang dalam dirinya. Merangkai kembali ingatan ilmu yang telah terpenggal oleh masa-masa menjemukan. Langkah-langkah indah yang dulu ia tapaki satu demi satu. Kini harus ia tempuh lagi. Mencapai kebahagiaan surgawi dunia akhirat. Tanpa sesak di dada.

Sembari belajar, ia perlahan teringat akan penjaga warung kopi samping pondok. Ia ingin sekali menyeruput kopi susu manis buatan penjaga tua itu. Ia putuskan untuk mengopi. Siang itu terasa sepi. Tak banyak santri yang terlihat di sepanjang jalan menuju gerbang. Anak-anak yang biasa mencuci baju di pinggir kamarpun taka da sama sekali.

“ Rasanya ada bagian yang hilang dalam lingkungan pondok ini.” Pikirnya.

Pondok terlihat sepi. Seperti halnya ketika liburan menjelang lebaran tiba. Semua santri pulang kampong. Merebahkan pikiran. Untuk sejenak berkumpul dengan sanak keluarga, setelah berbulan bulan mengais ilmu, barokah dan ridlo Allah di pondok.

Kang Setiyoko menyusuri gang sempit penuh genangan air, bekas hujan malam dari langit. Tanah yang basah membuat berat langkah kakinya. Semakin ia dekat dengan warung itu. Semakin dekat pula ia dengan fantasi indahnya. Rekreasi, dengan sekedar meminum secangkir kopi.

Sebuah rentetan peristiwa yang sukar untuk di ulangi. Bergulat dengan perasaan. Dan tuntutan kenyataan. Kata hati di jemur. Perasaan menjamur. Sedangkan yang tak diinginkan datang sekonyong konyong membawa ragu yang harus di taklukkan.

“ Lama tak jumpa kang, kemana saja ?.” Sambut penjaga setengah tua. Memulai obrolan ringan dengan Kang Setiyoko, yang hampir seminggu tak muncul di hadapannya.

Ndak kemana mana. Cuma di pondok saja. Seperti biasa pak.” Kata Kang Setiyoko menyambuti.

Suasana hangat tergambar jelas. Di warung samping pondok. Obrolan mereka tanpa beban. Semua masalah dalam dada dikeluarkan. Segala macam perdebatan di hentakkan. Kang Setiyoko menceritakan kisahnya mulai dari dipanggil Kyai hingga saat ini. Ia menceritakan semuanya. Kenapa dirinya sering bingung dan bertanya tanya pada diri sendiri. Bagi Kang Setiyoko, masalah nikah adalah sangat berat. Dia bingung jikalau sudah menikah nanti. Istri dan anak mau dikasih makan apa. Sedangkan saat ini, ia belum punya pekerjaan tetap. Dia masih ingin belajar. Mengaji pada sang Kyai. Memperdalam ilmu agamanya. Akan tetapi semua itu terbentur dengan kenyataan, bahwa umurnya sudah tak lagi muda. Sudah saatnya ia berumah tangga. Membangun keluarga yang sakinah.

“ Masalah begitu saja kok bingung kang.” Penjaga warung mencoba mengurangi rasa galau yang di hadapi Kang Setiyoko.

“ Bagaimana saya ndak bingung. Bangun tidur tiba-tiba ditawari nikah.” Kang Setiyoko menyahuti dengan nada membantah.

“ Apa yang sampeyan bingungkan ?.”

“ Saya bingung, harus memilih mana. Dinikahkan Kyai, atau belajar lagi di pondok. Sedangkan umur saya sudah tak lagi muda. Saya sudah waktunya.”

“ Oalah . . . . . umur sampeyan sekarang berapa ?.”

“ Besok juni, genap tiga puluh dua.” Sahut Kang Setiyoko sambil memegangi kepalanya. Sembari mengeryitkan keningnya.

“ Baru tiga puluh dua kok bingung. Sampeyan masih lumayan. Saya ini menikah umur empat puluh satu.” Kata penjaga itu dengan lugas. Kang Setiyoko seketika tersentak. Ternyata masih ada yang lebih parah dari pada dirinya.

Kaki kakinya menapak pasti, walaupun masih becek. Kang Setiyoko berjalan menyusuri gang sempit dengan senyum tersungging di mulutnya. Wajahnya begitu ceria. Seolah ia baru berumur tujuh belas tahun. Dia tak lagi berjalan menunduk. Pandangannya menatap lurus ke depan. Hati yang dulu meredup, kini bersinar lagi. Bintang- bintang menari di hatinya. Bulan purnama ikut tersenyum menikmati kebahagiaan hati yang tentram. Kegundahan yang menjalar di sekujur tubuhnya sirna di telan mentari sore. Di sepanjang jalan langkahnya seperti irama musik dana lam sekitar menyayikan lagu untuknya. Di kepalanya ia berpikir. “ kenapa aku harus bingung, penjaga warung itu saja menikah umur empat puluh satu. Sekarang umurku baru tiga puluh dua. Setidaknya aku masih mempunyai kesempatan untuk merencanakan masa depanku. Ah . . . . . masih banyak waktu untuk menikah. Aku ingin belajar. Aku ingin belajar.”

Rembang, 2014

Leave a Response