Imam Nawawi dan Kitab Arba’in-nya (1)

Oleh : Muhammad Tijany

Yahya bin Syarof an-Nawawi, atau yang dikenal dengan nama Imam an-Nawawi, menyusun karya yang isinya kumpulan hadis. Di dalamnya terhimpun 42 hadis. Para santri mengenal baik karya itu dengan sebutan kitab Arba’in, tepatnya “al-Arba’in an-Nawawiyyah”.

Imam Nawawi, dalam kata pengantarnya, menyebutkan bahwa hadis sangat penting karena ia mengabadikan dawuh-dawuh Rasulullah (SAW.) sebagai manusia istimewa penerima wahyu al-Quran yang tak lain adalah mukjizat sepanjang jaman (“al-mu’jizah al-mustamirroh ‘ala ta’aqubis siniin”).

Menarik, Imam Nawawi mengingatkan kita bahwa Rasulullah diamanati untuk membawakan agama yang luas cakupannya (“jawami’ al-kalim”) dan lapang/toleran ajarannya (“samakhatid diin”).

Beliau menyusun sebanyak 40-an hadis itu bukan tanpa alasan. Berangkat dari hadis yang diriwayatkan oleh banyak sahabat kanjeng Nabi, di antaranya Sahabat Abu Hurairah, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan Abu Darda’ (semoga Allah meridlai mereka semuanya).

Dilihat dari banyaknya sumber periwayatan yang kesemuanya merupakan sahabat-sahabat terkemuka tersebut, tampak jelas bahwa hadis tersebut sangat penting:

Dawuh Nabi (SAW.): “Sesiapa yang menjaga [dan merawat] 40 hadis mengenai urusan umat, Allah akan membangkitkannya dalam satu rombongan bersama para ahli fiqih dan ahli ilmu nanti di hari kiamat” .

Dalam versi riwayat lain disebutkan “dibangkitkan sebagai seorang faqih dan alim”. Dalam riwayat lain, disebutkan “aku (Rasulullah) akan berikan padanya syafaat dan aku menjadi saksi untuk [kebaikan] nya”.

Berangkat dari hadis tersebut, Imam an-Nawawi melakukan seleksi ketat dan teliti terhadap hadis-hadis, karena memang selain alim di bidang hukum fiqih beliau juga pakar di bidang hadis. Hasilnya, hanya 42 hadis yang dikompilasikan dalam satu karya “al-Arba’in an-Nawawiyyah”.

Sebenarnya ada banyak ulama yang menyusun karya seperti itu. Juga dengan motivasi yang sama. Sepanjang yang bisa dicatat sejarah, ahli ilmu pertama yang menyusun karya berisikan 40 hadis adalah Abdullah bin al-Mubarok. Disusul seorang alim sufi dari kota Thus, Aslam al-Thusi, lalu al-Hasan bin Sufyan an-Nasa’i, Ibnu Ibrahim al-Ashfihani, Abu Na’im, sufi terkenal Abdirrohman as-Sulami dan masih banyak yang lain, dari kalangan ulama terdahulu hingga yang belakangan.

Bahkan ulama kita abad 20, pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, pun menyusun karya 40 hadis yang berkaitan dengan pentingnya persatuan umat.

Ulama sebelum Imam Nawawi, seperti disinggung sebelumnya, memang sudah banyak yang menyusun karya 40 hadis dengan bidang-bidang yang spesifik dan terbatas, di antaranya 40 hadis bidang tata-krama (adab), 40 hadis bidang ushuluddin, ada yang bidang furu’iyyah, 40 hadis terkait dengan masalah jihad, dan lain-lain.

Tak mau kalah dengan mereka, Imam Nawawi “mempromosikan” kepada para pembaca bahwa karya Arba’in-nya bersifat lebih mendasar dibanding karya-karya lain. Alasannya, 40 hadis kompilasi beliau ini mencakup segala hal yang dijelaskan oleh karya-karya 40 hadis yang pernah disusun oleh ulama lain sebelumnya.

Mungkin muncul pertanyaan mengenai apa kriteria yang dipakai Imam Nawawi untuk memilih 42 hadis tersebut?

Sebenarnya ada latar belakang kisahnya. Sebagaimana yang dituturkan oleh tokoh mazhab hambali bernama Ibnu Rojab, di dalam karyanya “Jami’ al-‘Ulum wal Hikam”, bahwa kitab Arba’in bermula dari majlis pengajian seorang pakar hadis terkemuka di negeri Syam bernama Ibnu Sholah.

Ibnu Sholah pada suatu hari mendiktekan 26 hadis kepada para santri yang mana hadis-hadis tersebut merupakan hadis-hadis dengan kriteria “jawami’il kalim” (hadis yang sifatnya umum dan mencakup hukum-hukum syariat). Datanglah Imam Nawawi yang lalu berinisiatif untuk menyandarkan hadis-hadis lain yang menurutnya merupakan prinsip syariat. Dengan demikian menjadi genap berjumlah 42 hadis.

Kenapa jumlahnya 42 hadis, kok tidak genap 40 hadis sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah dalam dawuh yang disinggung di atas?

Menurut penuturan Ibnu Hajar al-Haytami, ada dua hadis tambahan yang tak bisa diacuhkan oleh Imam Nawawi. Bahkan beliau bangga dan senang jika keduanya dipakai sebagai hadis penutup bagi kitab kompilasinya di urutan ke-41 dan 42.

Dua hadis tambahan itu juga punya kriteria “mendasar dan mencakup hukum syariat”. Yang pertama mengandung ajaran jihad melawan hawa nafsu, sedangkan hadis tambahan yang kedua berisi anjuran untuk “ndhepe-ndhepe” dalam istighfar dan mengharapkan rahmat Allah Swt.

Jika kita boleh menebak-nebak, mungkin hadis Nabi “sesiapa yang menjaga 40 hadis….dst”, menurut Imam Nawawi, bermakna satuan 40-an sehingga hadis Nabi tersebut tidak sampai mengecualikan Arbain-nya Imam Nawawi yang berisi 42 hadis.

Imam Nawawi lahir di desa Nawa (sekarang wilayah Syria) pada bulan Muharram tahun 631 H. Di dalam kitab Thabaqat al-Syafi’iyyah, yang disusun oleh Imaduddin Ibnu Katsir, di belakang nama Imam Nawawi tersemat gelar kehormatan “muhyiddiin” (penghidup agama), “al-Hafidz” (penghafal hadits), “muharrir al-madzhab” dan “muhadzdzibul madzhab” (yang menata atau yang mensistematisasikan madzhab) dan murattibul madzhab (yang menertibkan madzhab).

Gelar-gelar akademik jaman klasik tersebut bukanlah gelar sembarangan, meski memang itu sebagian dari kebiasaan budaya Arab dalam menghormati seseorang yang memiliki kapasitas keilmuan. Untuk memahaminya, kita perlu menilik siapa Imam Nawawi dan apa posisi beliau di dalam sejarah dinamika madzhab Syafi’i.

Bisa dikatakan bahwa madzhab-nya Imam Syafi’i adalah madzhab fiqih paling moderat. Karena kemunculannya pertama kali dilatarbelakangi oleh perbedaan tajam antara sikap-beragama rasionalis di satu sisi (ahl al-ro’y—berpusat di Iraq) dan sikap-beragama tekstualis di sisi lain (ahl al-hadits—berpusat di Hijaz).

Imam Syafi’i muncul sebagai mujtahid dengan menengahi dan me-moderasi-kan dua kutub tersebut sehingga madzhabnya bersifat rasional tanpa lepas dari rujukan teks-teks al-Qur’an dan hadis. Jadilah madzhab Syafi’i madzhab yang moderat. Dalam perkembangannya, apa yang kita sebut madzhab Syafi’i tidak semata-mata hasil ijtihad Imam Syafi’i sendiri, tetapi lebih pas disebut ijtihad kolektif, yakni hasil ijtihad para ulama pengikut Imam Syafi’i dari generasi ke generasi.

Madzhab merupakan hasil ijtihad banyak ulama mujtahid, dari jaman ke jaman dan pada situasi-situasi lokal tertentu, dengan mengikuti rambu-rambu ushul fiqh imam madzhab. Maka sebab itu, khazanah madzhab yang dihasilkannya mengalami proses yang dinamis.

Madzhab Syafi’i punya asal-usulnya dari upaya ijtihad Imam Syafi’i terhadap masalah-masalah hukum. Hasil ijtihadnya itu diikuti sekaligus direvisi seiring berubahnya situasi. Revisi itu ada kalanya dilakukan oleh Imam Syafi’i sendiri, ada kalanya direvisi oleh pengikutnya. Ijtihad Imam Syafi’i sebelum direvisi dikenal dengan sebutan “qaul qadim”, yang lalu menjadi “qaul jadid” setelah direvisi sebagai akibat berubahnya situasi lokal seiring petualangan ilmiah beliau di Mesir.

Ada kitab yang ditulis Imam Syafi’i yang menjadi rujukan para pengikutnya dalam menyempurnakan madzhab syafi’iyah, di antaranya al-Umm, al-Imla’, dan al-Mukhtashar.

Kurang lebih 2 abad setelah Sang Imam wafat, khazanah ilmu fiqih madzhab syafi’iyah sudah berkembang luas meliputi banyak persoalan hukum dikarenakan para ulama melakukan penyempurnaan-penyempurnaan mengenai masalah yang belum terpikirkan oleh Sang Imam, atau berijtihad dengan hasil yang berbeda dalam satu masalah yang sama.

Muncullah Imam al-Juwaini, gurunya Imam Ghazali (semoga Allah meridlai mereka), menyusun karya Nihayah al-Mathlab yang merangkum kitab-kitab Imam Syafi’i. Di dalamnya tercatat khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama syafi’iyah dan sekaligus diberikan tarjih persoalannya oleh Imam al-Juwaini.

Bagi banyak kalangan, membaca karya al-Juwaini sangat berat. Akhirnya Imam Ghazali meringkasnya ke dalam 3 karya terpisah: versi tebal judulnya “al-Basith”, yang agak ringkas judulnya “al-Wasith”, dan dalam format yang terkecil berjudul “al-Wajiz”.

Sampai disini, muncullah ulama bernama Imam al-Rofi’i yang menulis karya berjudul “Fath al-Aziz” sebagai syarah (penjelasan) untuk kitab al-Wajiz-nya Imam Ghazali tadi dan sekaligus ringkasannya dalam karya berjudul “al-Muharrar”.

Setelah dua karya Imam al-Rofi’i ini, datanglah Imam Nawawi untuk menata madzhab syafi’iyah melalui peringkasan sekaligus mendukung tarjih-nya Imam Rofi’i atau mengkritik dan mengkoreksinya.

Posisi penting Imam Nawawi dalam madzhab syafi’iyah tampak dari karya-karya beliau yang menjadi rujukan dalam kajian hukum Islam madzhab Syafi’iyah, termasuk di pesantren-pesantren di Indonesia, yakni kitab Roudlotut Tholibin dan Minhajut Tholibin.

Tak cuma itu. Imam Nawawi, yang mendedikasikan seluruh umurnya untuk menghidupkan madzhab syafi’iyah, menyusun karya lain berjudul al-Majmu’ yang sistematis, mudah, mengandung keutamaan-keutamaan khazanah madzhab berikut pokok-pokok persoalan dan dalil-dalilnya.

Nama besar Imam Nawawi barangkali menjadi semakin bersinar berkat Imam Zakariya al-Anshori dan tiga muridnya: al-Syarbini, al-Ramli, dan al-Haitami, yang masing-masing serentak menulis syarah atas Minhajut Tholibin-nya Imam Nawawi dalam karya yang terpisah dan berbeda.

Di dalam kitab Thabaqat-nya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Imam Nawawi amatlah zuhud dan “tidak minum air dingin, tidak menikah sama sekali, sedikit tidur banyak begadang untuk berdzikir, menyusun karya dan membaca al-Quran”.

Demikianlah. Beliau memang menjomblo dengan prinsip “jomblo adalah pilihan” yang sebenarnya, yakni memilih hidup menjomblo untuk memberikan seluruh cintanya kepada tradisi pengetahuan agama sebagai thoriqoh beliau berkhidmat kepada Allah Swt.

Semoga Imam Nawawi diridlai Allah dan memperoleh syafaat Rasulillah… amiin.

(Insyaallah bersambung)

Leave a Response