Asap Kretek dan Imajinasi-Kreatif

Asap Kretek dan Imajinasi-Kreatif

Oleh : Muhammad Tijany

Sebuah sore yang mendung. Kretek di tangan dan secangkir kopi menemani saya duduk di serambi rumah. Kosong dan sendiri. Dan saya tertarik mengamati asap yang mengepul tipis, begitu labil dan rentan. Terlihat di mata, namun tak terjangkau genggaman tangan.

Pelan-pelan saya dihantarkan kepada gagasan tentang alam ciptaan. Saya tercekat dalam pikiran; betapa asap rokok di mata saya, seperti dunia fana di hadapanNya. Sungguh angan-angan yang berlebihan.

Apakah Tuhan bermain-main muspra dengan ciptaan, dengan langit dan bumi, menggelindingkan bulan dan matahari, menggulirkan dunia manusia setiap hari? Mencipta ciptaan serapuh dan serentan asap rokok, apakah itu bukan main-main?

Tidak! Saya yakin Gusti Allah tak sampai hati bermain-main, apalagi sampai mempermainkan. SifatNya yang welas-asih dan maha adil cukup menghalangi saya berduga-duga sedemikian dangkal. Seperti asap rokok yang mungkin-tampak di mata, tapi tak mungkin bisa digenggam. Barangkali juga demikian dengan alam ciptaan.

Ada hubungan saling meresap dan menyelusup antara yang-imanen dan yang-transenden, pada tabiat dunia yang fana ini. Tak sepenuhnya imanen, juga tak seluruhnya transenden. Kedua sifat itu timbul-dan-tenggelam seiring dinamika penciptaan.

Dalam istilah kaum sufi, muncul-dan-musnahnya dunia ciptaan ini terjadi seiring dengan, secara simbolis, hembusan “nafas-ilahi” atau “nafas al-Rohman”.

Saat para filsuf dan teolog spekulatif memisahkan jauh-jauh antara al-makhluq (dunia ciptaan) dan al-khaliq/al-bari/al-shani’ (Sang Pencipta), para sufi punya penggambaran yang lain, dengan menekankan doktrinnya yang begitu “simbolis”, bahwa dunia ciptaan ini seperti bayang-bayang (ظلّ – ظلال).

Bayang-bayang, kala kita amati, ia bergerak mengikuti benda riil-nya. Terkadang bentuknya terlihat tak beraturan (tergantung sudut pencahayaan), tampak riil tapi samar, maujud sebagai berbaurnya cahaya-dan-kegelapan, termanifestasi dalam keadaan nir-keberadaan. Demikianlah alam-ciptaan.

Dalam ihwal ambiguitas seperti itu, apakah alam ciptaan ini riil atau tidak, bagaimana modus eksistensinya, eksistensi macam apa yang melekat padanya, menjadi tema yang banyak diulas di sela-sela kontemplasi (musyahadah)-nya para sufi.

Asap Kretek dan Imajinasi-KreatifMemperhatikan asap krerek lebih dalam, pandangan saya mengikutinya ke mana ia bergerak, hingga lenyap dihembus angin. Imajinasi saya buyar saat tak bisa lagi dilanjutkan.

Ketika asap rokok kian rentan tak bisa lagi diimajinasikan, hanya tinggal imajinasi yang bisa dipikirkan. Menyisakan jalan memutar untuk berbalik haluan, memikirkan imajinasi saya sendiri, yang pada gilirannya juga samar-samar di antara keadaan jelas-dan-kabur.

Barangkali benar kata Abd al-Karim al-Jili dalam karyanya al-Tajalliyat, bahwa alam ciptaan ini tak memiliki kekukuhan permanen, bisa jadi tak lain merupakan tumpukan imajinasi-ilahi yang tak-terperi.

Untuk menyebut imajinasi, bahasa Arab punya konsep “al-khoyal /الخيال”. Khoyal ini secara mistikal bukanlah khayal dalam bahasa sehari-hari, bukan khayalan semu, bukan ilusi ataupun halusinasi, tak sekadar mimpi atau hal-hal yang dianggap non-riil lainnya. Khoyal menghadirkan pengertian tentang sebuah alam-intermediasi, semacam perantara/penghubung antara dua kutub yang berbeda secara esensial.

Dalam bahasa sufi, ranah inter-mediasi ini dinamai barzakh (البرزخ). Semula kata “barzakh” diserap dari bahasa Persia, yang artinya “perantara”. Karena itu, tidak pada tempatnya jika kita salah kaprah menduga “barzakh” itu hanya berkaitan dengan alam setelah kematian atau alam kubur.

Menurut sufi eksentrik dari Spanyol, Ibnu Arabi, pengetahuan mengenai segala hal yang terjadi di alam khoyal dinamai “ilmu al-khoyal”, atau “ilmul barzakh”. Secara mistikal, alam khoyal bersifat inter-mediatif (barzakhiyah) dengan alasan bahwa disana makna-makna dan entitas-entitas spiritual (ruhaniyyat) ditubuhkan (“mujassadah”) hingga menjadi tampak bagi manusia, baik secara intuitif (dzauqi) maupun rasional (aqli), ataupun kombinasi keduanya–dalam format penampakan tertentu.

Sebuah hadis Nabi (Saw.) menyebutkan bahwa kelak kematian hadir secara imajinal dalam bentuk seekor kambing, yang disembelih di hadapan penduduk surga. Dengan disembelihnya “kematian”, mereka dihadiahi keabadian.

Bagi kita, khoyal [yang “barzakh”] itu dipahami sebagai perantara antara dua dimensi, yakni ranah gelap yang tak diketahui dan ranah entitas-entitas maknawi. Seperti “alam barzakh” yang memperantarai antara alam dunia dan akhirat.

Dalam psikologi, khoyal menjadi identik dengan imajinasi. Segala hal yang muncul saat kita berimajinasi memiliki sifat intermediatif, yang memperantarai antara yang ma’qul (intelijibel) dan ghoiru ma’qul (non-intelijibel), yang realistis dan yang imajiner, dan semacamnya.

Saya kembali menatap asap kretek, yang bergerak gemulai tak beraturan. Seperti juga kabut-awan.

Jika diibaratkan, khoyal seperti asap. Asap, meski terlihat seperti halnya benda padat, ia tak bisa dipegang laiknya udara. Saya menyebut imajinasi seperti asap lantaran imajinasi itu “tampak” dalam benak manusia, tapi tak bisa “diatasi”, tak bisa dibatasi dengan batasan rasional.

Di balik rentannya imajinasi, yang ambigu dan mem-barzakh itu, ternyata ia menyimpan kekuatannya sendiri.

Sering kali imajinasi menjadi kenyataan, ketika ia dipertaruhkan agar bisa dipikirkan dan menjadi objek pengetahuan manusia.

Nah, jika imajinasi dan pengetahuan manusia saling melengkapi dan saling berjalin-berkelindan secara dinamis, pengetahuan akan membawa manusia pada makna-makna baru, di satu sisi. Di sisi lain, imajinasi akan menemukan jalan menuju pengetahuan yang real.

Asap kretek, masih saya perhatikan, mengepul liar penuh kelembutan dan bergerak-naik ke capaian yang lebih tinggi.

Demikian pula imajinasi; ia bergerak bebas menjangkau sudut mana pun, bahkan menjangkau batas-batas terluar yang bisa dipikirkan manusia; imajinasi begitu “liar” bergerak dalam hembusan dinamis intelijensi dan intuisi manusia.

Tapi apakah imajinasi sedemikian riil? Sejauh apa realitasnya? Tiba-tiba cangkir kopi yang sedari tadi kubiarkan seolah mencolek saya dengan mesra. Seolah mengajak saya kembali kepada Ibnu Arabi.

Bagi Ibnu Arabi, alam semesta ini sebenarnya imajinasi Tuhan. Khoyal Tuhan “di saat” Dia merenungi kesendirianNya, dalam pengertian perenungan-diri azali. Inilah alasan kenapa seorang pemikir Perancis, Henry Corbin, setelah mengkaji ajaran mistik Ibnu Arabi, memperkenalkan istilah “imajinasi kreatif” sebagai kunci untuk memasuki filsafat mistikal Ibnu Arabi.

Imajinasi kreatif merujuk kepada imajinasi Tuhan, imajinasi yang kreatif, imajinasi yang hasilnya berupa terciptanya semesta dalam rentang waktu yang abadi.

Di sinilah, sesuai kabar pewahyuan (QS. 55:29), Tuhan tak pernah menganggur, apalagi dalam “lamunan kosong”. Dia senantiasa dalam keadaan menciptakan melalui permenungan-diri yang imajinatif dan kreatif. Tak sulit membuktikan hal ini, betapa dunia fana selalu mengalir dan berubah, bergerak dan bergeser, sesuai kehendak-kreatif ilahi.

Kehendak-kreatif ini menemukan substansi-azali dalam rupa hembusan “kabut imajinal” yang terbalut welas-asihNya. Saat itulah Dia menuangkan setetes demi setetes ruh-ruh kehidupan dari cawan hayat-Nya.

Istilah Corbin, “imajinasi kreatif”, kembali muncul. Kali ini terkait dengan pengetahuan dan imajinasi manusia. Ya, pengetahuan itu seperti kopi dengan asap rokok sebagai imajinasinya. Dengan berimajinasi, pengetahuan menjadi berkembang.

Coba kita amati sejarah pemikiran manusia yang memperlihatkan betapa kemajuan sains tak mungkin terjadi tanpa imajinasi ilmuwan. Berkat berimajinasi, kita seperti menemukan makna-makna baru di balik pengetahuan kita yang dangkal. Jika yang dangkal saja sanggup memunculkan makna baru, apalagi [Tuhan] yang pengetahuanNya bak samudera, Samudera kemutlakan?

Ilmuwan kesohor Albert Einstein menyebut imajinasi lebih penting ketimbang pengetahuan. Mungkin saja dia menemukan teori relatifitas, sambil “nge-khayal” berimajinasi. Dugaan saya, imajinasinya muncul saat sedang duduk santai sambil menghisap kabut asap cerutunya.

Lain cerita dengan kanjeng Nabi saat ditanya “dimanakah Tuhan sebelum menciptakan segala ciptaan?”. Dijawab: “Dia berada pada kabut-awan yang di bawahnya adalah udara, di atasnya juga udara, lalu menciptakan Arsy di atas air”. Tapi jangan kita memahami hadis itu secara fisikal-ketubuhan. Amat riskan. Berpikir ketubuhan terhadap Tuhan merupakan bahaya teologis yang mencemari keyakinan kita akan kemahasucianNya.

Nah, “awan-kabut” pada hadis Nabi itu sepadan pengertiannya secara simbolis dengan “al-khoyal al-muthlaq” dalam bahasanya Ibnu Arabi. “Imajinasi-absolut”, semacam imajinasi yang dinisbatkan pada keagungan-esensial ilahi. Sedangkan “udara” merepresentasikan situasi kosong, tiada apa pun selain Dia dalam kesendirianNya, sebelum-dan-sesudah segala sesuatu meng-ada. Dalam ungkapan reliji-nya: Laa ilaaha illallaah qobla kulli syay’ ba’da kulli syay’ yabqo Robbuna wa yafnaa kullu syay’.

Benar kata Einstein, imajinasi memang lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan akan menjadi dogma yang jumud jika diberhalakan tanpa imajinasi. Pengetahuan ilahi akan tetap dalam kesendirian-absolut tanpa kerinduanNya (baca: imajinasiNya) kepada makhluk. Inilah makna imajinasi-kreatif.

Jika Descartes mengatakan “aku berpikir, maka aku ada,” kaum sufi merapalkan “Tuhan berimajinasi, maka aku ada”. Boleh-lah para seniman istiqomah meyakini: “aku berimajinasi, maka aku ada”. Para santri pun dengan kukuh berkata “aku ngaji, maka aku ada”. 🙂

Wallahul muwaffiq…

Rembang, 5 Feb. 2018

Leave a Response