City Branding, Rembang Bangkit atawa Madani

City Branding, Rembang Bangkit atawa Madani

Segerombolan anak-anak muda NU yang tergabung dalam kelompok diskusi ‘ObrolanSantri’ kembali berkumpul pada Sabtu malam (12/3-2016), pukul 19.30. Diskusi kali ini bertempat di musholla kecil kuno Al-Fatah di gang Kulit desa Sawahan, yang di-takmir-i Gus Inong.

Setelah minggu sebelumnya membahas Walisongo dan peran historisnya dalam peletakan dasar-dasar identitas Nusantara modern, malam itu ObrolanSantri mengambil tema ‘Rembang Bangkit atawa Madani’.

Sebagaimana yang telah banyak diketahui masyarakat Rembang, Bupati terpilih dan wakilnya, setelah memulai masa khidmah dengan pernyataan bahwa di Rembang sudah saatnya ada mall, kembali melempar wacana bahwa slogan Rembang Bangkit perlu diubah menjadi Rembang Madani.

Maka diskusi ObrolanSantri malam itu dimulai dengan sebuah pertanyaan: perlukan Rembang Bangkit diubah menjadi Rembang Madani?

Moderator diskusi, kang Nad, melempar pertanyaan menggelitik: apa yang dimaksud madani? Apakah madani itu bahasa Jawa yang berarti ‘menyamai’, atau, bahasa Jawa pula yang berarti ‘mengolok-olok’? Atau, madani yang merupakan kosakata bahasa Arab yang berarti ‘beradab’?

Atau, jangan-jangan, Madani itu nama yayasan?

Mas Gong, yang mendapat kesempatan pertama membuka wacana, memaparkan sejarah penamaan slogan Rembang Bangkit dan menyatakan bahwa sah-sah saja slogan tersebut kemudian diubah demi sebuah strategi pembangunan kabupaten Rembang yang lebih sistematis dan terarah.

“Kalau perubahan slogan ini merupakan langkah awal dari paket strategi pembangunan Rembang yang lebih fundamental dan sistematis, saya setuju saja,” tutur Mas Gong. “Asal pembangunan itu demi kesejahteraan sebagian besar masyarakat. Bukan demi kesejahteraan segelintir elit,” sambungnya mewanti.

Kang Dodik, merasa ada yang kurang dari pemaparan mas Gong, buru-buru menimpal, “Jangan lupa, penetapan penamaan atau slogan harus diikuti dengan rencana pembangunan yang simultan dan real, bukan hanya slogan saja.”

Kang Mamak, yang mendapat kesempatan tutur kedua, berpendapat sama: sah-sah saja. Namun kemudian menambahi bahwa alangkah bijaknya bila penamaan slogan sebuah kabupaten tidak melupakan akar budaya dan tutur bahasa masyarakat lokal kabupaten yang bersangkutan. “Daripada jauh-jauh ambil kata kearab-araban, mending pakai slogan dari bahasa khas Rembang yang akrab di telinga dan mudah diucap dan dicerna. Banyak, kok, contohnya. Bisa Rembang Matoh, Rembang Mbenthot, atau Rembang Greget,” ujarnya disela tawa.

Kang Kelik langsung menimpali bahwa Rembang tak kurang nilai sejarah, norma budaya, maupun kearifan tradisi, yang bisa dijadikan inspirasi penamaan slogan kabupaten. “Lasem itu kurang bernilai historisnya bagaimana? Rembang itu kaya,” tekannya.

Kang Atiq, yang malu-malu tapi akhirnya mau, juga langsung menyambung, “Saya sedih banyak mahasiswa asal Rembang di luar kota yang saat ditanya mengakunya dari Semarang. Atau kota lain yang lebih besar.”

Kang Mamak menimpali, “Artinya kita minder. Kita tidak menyadari arti penting identitas. Jadi sebenarnya penting juga Bupati dan wakilnya menggarap politik identitas. Agar warga Rembang bangga dengan Rembangnya.”

Kang Ahma, pemilik salah satu media online di Rembang dan sekaligus ketua Pimpinan Cabang IPNU Kab. Rembang, memberi dimensi lain pada tema diskusi dengan membahas diskursus slogan kabupaten dari kacamata anak muda.

“Beberapa saat yang lalu Gubernur Jateng mengundang insan media online untuk kumpul dan diberi pengarahan tentang target menggaet wisatawan mengunjungi kota-kota di Jawa Tengah. Sasarannya anak muda. Dan salah satu strategi jitunya adalah ‘city branding’,” paparnya.

“Banyak kota yang berhasil dengan citra kotanya. Jogja Istimewa. Solo The Spirit of Java. Enjoy Jakarta. Rembang menurut saya harus bisa mengemas citra kota yang ‘eye catching’, anak muda banget, dan ‘easy listening’. Sayangnya ‘Rembang Madani’ tidak tergolong yang demikian,” lanjutnya mengkritisi.

Kang Afid, yang adalah sarjana arsitektur, tidak mau ketinggalan memberi warna diskusi. Paparnya, “Yang tidak kalah pentingnya adalah pengelolaan tata letak kota. Kebijakan pembangunan fisik harus dikelola dan ditata dengan orientasi kesejahteraan sebanyak mungkin masyarakat. Jangan cuma segelintir elit.”

Saat dipancing peserta diskusi yang lain tentang contoh pembangunan fisik berorientasi kesejahteraan masyarakat, gus Afid menjawab, “Pasar rakyat. Taman kota. Ruang baca. Public sphere yang lain.”

Saat diminta memberi contoh pembangunan fisik berorientasi keuntungan segelintir elit, dia melugas, “Hotel. Perumahan. Mall.” (Nad)

Leave a Response