Dadi Santri Ojo Kagetan

Di sela-sela mengaji, tak jarang para santri menerima anjuran-anjuran dari Kyai untuk merapal doa yang berkhasiat tertentu. Doa memohon keselamatan umumnya masih sering ditekankan dan dianjurkan. Misalnya doa berikut:

اللهم سلمنا من آفة الدنيا وعذاب الآخرة و من فتنتهما
(Allahumma sallimna min afatid dunya wa ‘adzabil akhiroh wa min fitnatihima)
Artinya: Ya Allah Gusti, berilah keselamatan pada kami dari bencana di dunia, azab di akhirat, dan dari musibah fitnah keduanya.

Maka wajar, berkat senjata spiritual itu, kalangan santri umumnya tidak mudah terprovokasi ketika dihadapkan pada fitnah, tidak mudah reaktif ketika difitnah. Pada musim-musim masyarakat sedang dihinggapi demam politik seperti hari-hari ini, berkaca pada model gerakan khas santri, kaum santri juga tidak demen kampanye negatif, apalagi kampanye hitam.

Berikut ini, redaksi menurunkan sebuah dokumen sejarah yang berisikan klarifikasi atas sikap NU dalam menghadapi badai fitnah di sekitar kejadian tahun 1965-1966.

***

“Bandjir Fitnah Bertubi² pada Alamat N.U.”

–Bantahan Tegas K.H. Machrus Ali terhadap Tuduhan² Murah–

Fitnah terkutuk besar dan ketjil serta tentu sadja bohong semata² telah dilontarkan terus menerus kepada alamat N.U. Tetapi aneh bin adjaib djustru fitnah² itu membuat partai Islam ini makin subur dan bergelora dengan 25 djuta pengikutnja tersebar di seluruh pelosok tanahair.

Fitnah tadjam dan kedji dengan memalsu tjap G.P. Ansor dari salah satu ranting G.P. Ansor di Surabaja secara tidak sopan telah sampai ke Istana Djakarta. Fitnah itu menjebutkan seolah2 G.P. Ansor akan membentuk Negara Islam Indonesia. Fitnah dan tuduhan murah seperti itu sudah lama dilantjarkan oleh P.K.I. pengchianat bangsa sebelum Gerakan 30 September-nja. Namun sekarangpun fitnah sedemikian didjual di pasaran masjarakat tetapi tidak seorangpun Pantjasilais jang tjinta Bung Karno dalam arti kata² dan perbuatan, akan mempertjajainja.

Dibawah ini adalah bantahan tegas dari Ketua Sjurijah N.U. Djawa Timur Bapak K.H. Machrus Aly.

“Desasdesus jang merupakan perang urat sjaraf jang menjebutkan bahwa sehabis Lebaran, golongan Agama, chususnja Agama Islam akan mengadakan gerakan rasialis jang ditudjukan kepada golongan lain, adalah bohong dan merupakan fitnah belaka terhadap golongan Agama jang dilantjarkan oleh Nekolim dan G-30 S beserta antek²nja. Ummat Islam di seluruh Djawa Timur supaja tetap awas dan waspada, djangan sampai kena diadudomba antara kita dengan kita oleh siapapun djuga.

Tetaplah pelihara persatuan dan kesatuan antara golongan progrev, tetaplah bantu ABRI dalam membina dan memupuk keamanan.

N.U. tak ada impian apalagi niatan untuk membentuk Negara Islam, seperti apa jang didesasdesuskan oleh Nekolim dan antek²nja. N.U. tetap mempertahankan Negara Pantjasila sampai achir zaman. Marilah kita tetap setia kepada Pemimpin Besar Revolusi kita Bung Karno dan melaksanakan Pantjar (Pantja Azimat Revolusi). Semoga Allah S.W.T. memberi Taufiq dan Hidajah-Nja terutama kekuatanNja kepada kita sekalian. Amin!

***

Selebaran ini kemungkinan besar diterbitkan beberapa bulan setelah kudeta G30-S/PKI, menjelang Lebaran (yang jatuh pada 3 Feb. 1966), di tengah gentingnya situasi politik nasional kala itu.

Dari dokumen itu, ada beberapa hal yang patut digarisbawahi yang menjadi ciri khas NU dalam mengambil posisi dan perannya :

1. Biarpun difitnah, NU tetap pede dalam menegaskan stabilitas dan loyalitas Nahdliyyin terhadap NU yang saat itu sebagai partai politik.
2. Meskipun berbasis massa kaum muslimin, “partai” NU tetaplah Pancasilais, tidak pernah punya agenda membentuk Negara Islam.
3. N.U. tidak berada di pihak musuh revolusi (yang disebut Bung Karno: Nekolim/Neo-kolonialisme&imperialisme) dan pihak Gerakan makar 30 September. Keduanya sama-sama bahaya bagi keutuhan NKRI dan Pancasila.

Leave a Response