Diskursus Media; Sebuah Reportase. OS 15

Diskursus Media; Sebuah Reportase. OS 15

Ada yang berbeda pada acara ObrolanSantri sesi ke-15 kemarin (17/3). Untuk pertama kalinya forum jagongan rutin tersebut dimulai dengan pembacaan Qasidah Burdah oleh Kang Mamak. Yang menarik, Kang Mamak melantunkan qasidah karya Imam Al-Bushiri ini dengan nada Jawa sehingga menciptakan suasana yang manunggal dan seirama dengan pendopo Cakraningrat, kediaman dalang muda Ki Sigid Ariyanto.

Nuansa khas Jawa tersebut mengingatkan kita pada perjuangan Walisongo yang menggunakan budaya Jawa sebagai media dakwah. Media dan strategi dakwah demikian secara langsung mendukung keberhasilan Walisongo dalam membumikan ajaran Islam.

Tak dapat dipungkiri, pemilihan media menjadi langkah strategis dalam penyampaian sebuah gagasan. Ya, media. Karena itu, ObrolanSantri sesi ke-15 mengambil topik tentang media untuk mengkaji pentingnya media dalam gerak kebudayaan. Jagong gayeng ini dipandu oleh Kang Fahmi selaku moderatornya.

Kang Dalang Sigid tidak menampik fakta keberhasilan Walisongo berdakwah lantaran memanfaatkan budaya Jawa sebagai media dakwah. “Itulah kecerdasan Walisongo. Pedagang Gujarat berdakwah selama 900 tahun tapi tak membuahkan banyak hasil. Sedangkan Walisongo, melalui media wayang dan gamelan, mampu menyentuh basis kultural Jawa di dalam membumikan ajaran Islam,” ungkap Kang Sigid.

“Di antara Walisongo, Sunan Kalijogo merupakan satu-satunya wali yang sangat memahami karakteristik orang Jawa. Dengan pergelaran wayang kulit, beliau mampu menjadi jembatan antara ajaran Islam yang baru masuk dengan kebudayaan Jawa yang sudah lama dikenal adiluhung,” sambung Kang Sigid.

Kang Sigid menambahkan, “sebagai sebuah media, pergelaran wayang kulit merupakan pertunjukan yang paling komplit dan awet. Komplit karena dalam pergelaran wayang kulit menghimpun banyak media dan karya seni, semisal seni lukis, seni pahat, seni kerajinan, drama, sastra, vokal, lagu dan tari. Awet karena hingga saat ini wayang kulit masih bisa dinikmati. Sebab itulah UNESCO mengakui Wayang sebagai satu-satunya tontonan warisan budaya dunia.”

Selain sebagai sarana dakwah bagi Walisongo, terang Kang Sigid, fungsi lain kesenian wayang kulit, diantaranya sebagai media ritual, media hiburan, juga sebagai media politik atau sarana kampanye menjelang coblosan. “Bahkan pada zaman Pak Harto, wayang digunakan sebagai media penerangan. Dalang-dalang dimanfaatkan sebagai corong pemerintah mensosialisasikan program-program pembangunan,” terang Kang Sigid kemudian.

Obrolan makin menarik ketika wayang dipahami sebagai media politik. Kang Gong Cholili, ketika mempertajam sudut pandang media politik, melihat bahwa tujuan media diorientasikan oleh kepentingan pelaku media. Karena itu, yang menentukan sekaligus bertanggung-jawab atas karakter media adalah pelakunya, bukan medianya. Menurut Kang Cholili, wayang ibarat pisau, ia bisa bermanfaat atau berbahaya tergantung siapa yang menggunakannya.

Kang Cholili bercerita, bahwa dalam perjuangan revolusi Iran, Ayatollah Khomeini memanfaatkan kedai kopi sebagai media untuk mengumpulkan para pemuda. “Mirip dengan cafe-cafe di Rembang, (perjuangan Khomeini) itu bagus karena dari situ lantas berdirilah negara Republik Islam Iran yang menggeser kekuasaan sebelumnya yang totaliter dan eksis sebagai boneka asing.” Di Indonesia, banyak kafe yang juga mengumpulkan para pemuda, tapi tidak ada tanggung-jawabnya, alias it’s just for fun. “Untuk itulah, harus ada kontrol terhadap media”, papar Kang Gong Cholili.
Menanggapi pemaparan Kang Gong Cholili, Kang Naf’an Fuadi beranggapan, media memang terbagi menjadi dua madzhab yang tidak akan bisa rukun. Madzhab pertama adalah “media untuk media” yang digunakan untuk semata-mata menyampaikan fakta apa adanya tanpa ada kepentingan. Sedangkan madzhab yang kedua adalah media untuk menyampaikan informasi yang bukan bebas-nilai yang tentunya sarat kepentingan dan tujuan.

Kang Naf’an sempat mengutarakan keresahannya. “Sekarang ini ada kecenderungan sebagian orang yang ingin menghilangkan Jawanya tapi mengedepankan kearabannya, sebagian yang lain lebih mengedepankan Jawanya saja tapi Islamnya dilupakan. Sebagai santri, kita harus berada di tengah-tengah. Jangan sampai seperti kacang lali lanjaran,” kata Kang Naf’an.

Senada dengan Kang Cholili dan Kang Naf’an, Kang Najieh beranggapan media memiliki fungsi yang strategis. Hal itu juga diamini Kang Sutejo, aktivis Waroeng Sosial. “Makanya, pemanfaatan media harus sesuai dengan apa yang ada di dalam hati nurani,” ungkap Kang Tejo.

Kang Mamak menyoroti apa yang diutarakan Kang Naf’an, bahwa pembedaan antara media bebas nilai dan media sarat nilai dalam dua madzab tersebut sebenarnya tidak berdasar. Hari ini, menurut Kang Mamak, semua media sarat akan nilai dan selalu ada muatan kepentingan tertentu, bahkan termasuk sebagian konten media sosial yang berisi hal-hal remeh-temeh.

“Jika kita memandang bahwa media memiliki potensi strategis di tengah masyarakat dan berperan dalam perubahan sosial, baik negatif ataupun positif, itu artinya kita sudah mengamini secara implisit bahwa media selalu mengandung muatan nilai. Karena itu, media perlu dipahami dari sisi efeknya terhadap masyarakat dalam hal apakah ia memberikan pencerahan atau malah menyesatkan.

Hal tersebut bisa tampak jelas ketika kita melihat bahwa al-Quran adalah media yang menyampaikan pesan-pesan ilahiyah melalui bahasa yang dipahami masyarakat. Kang Mamak mengutip QS. Ibrahim ayat 4: wa maa arsalna mir rosulin illa bilisani qawmihi liyubayyina lahum fayudhillullahu may yasyaa’ wa yahdi may yasyaa’ wahuwa al-‘azizu al-khakim, yang artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, kecuali dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Selain Kang Tejo, dari perwakilan aktivis sosial hadir pula Kang Waksaki, salah seorang pengelola Rumah Yatim Piatu NgisorWaru. Keduanya sama-sama memanfaatkan media sosial berupa FB, Twitter, Blog dan Web untuk memberikan laporan perihal kegiatan yang dilaksanakan.

Yang menarik, Rumah Yatim Piatu Ngisor Waru juga berawal dari perkumpulan para pemuda di warung kopi desa Tasik Agung yang memiliki tekad untuk melakukan kegiatan sosial. Ini mengingatkan kita pada paparan Kang Cholili tentang langkah yang ditempuh Ayatollah Khomeini.

“Saat ini kita mengupayakan biaya pendidikan bagi 435 anak yatim piatu. Tak hanya di desa Tasik Agung, tapi juga di beberapa kecamatan di Rembang,” ungkap Waksaki.

Seperti geram dengan kondisi sosial yang ada, Kang Najib, seorang aktivis NU yang banyak bergerak di sektor ekonomi ini mengatakan, “di kalangan umat Islam, aktivitas penggalangan dana untuk kegiatan sosial memang masih lemah. NU banyak meminta bantuan ke warganya.”

Kang Najib melanjutkan, “sebagai wadah sosial, harusnya justru NU memberikan peluang usaha untuk warganya. Membuat koperasi, misalnya, hasilnya bisa diberikan untuk kegiatan amal sosial.”

Terkait dengan media, Kang Najib mengutip ungkapan Agus Sunyoto, “untuk menguasai dunia, Orang Barat membidik dua hal, yaitu media massa dan (ketahanan) pangan.”

Kang Kelik, seorang videografer muda, menimpali, “di media pertelevisian telah terdapat banyak penjajahan tapi tragisnya kebanyakan masyarakat kita tidak merasa dan tidak sadar, coba Anda lihat, sedemikian parahnya demam film Korea dan film India yang saat ini booming. Belum lagi dunia musik yang sudah kehilangan ruh dan seolah sudah buta akan situasi sejarah hari ini, tragisnya tayangan-tayangan itu dimassifkan sedekian rupa untuk menjadi konsumsi sehari-hari generasi muda kita. Sebenarnya kita punya media kontrol seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), tapi sayangnya impoten.”

Pendapat unik kemudian datang dari Kang Jumari, seorang seniman, musisi dan juga aktor dari Sragen. Menurut beliau, biar saja budaya luar datang bertubi-tubi pada kita. Kita tidak perlu membentengi diri dan menghindar. Kalau perlu kita membombardir diri hingga kita merasa bosan dengan budaya luar. Dengan begitu secara naluriah kita akan segera merasa rindu dengan budaya sendiri. “Saat ini kita memang sedang berada di era perang ideologi, dimana budaya yang satu dengan yang lain saling mempengaruhi,” tegas Kang Jumari. (Emdezet Fahmi)

Leave a Response