Generasi Labil, Generasi Gagal Paham

Baru-baru ini, seseorang melalui aplikasi messenger mengutarakan satu persoalan kepada saya.

Oleh : Muhammad Tijany

Baru-baru ini, seseorang melalui aplikasi messenger mengutarakan satu persoalan kepada saya. Persoalannya sederhana tapi memprihatinkan. Persoalan yang menunjukkan rentannya kaum muda terhadap pendangkalan pemahaman agama dan labilnya mereka terhadap sentimen sektarian.

Dia mempertanyakan kenapa NU pakai logo gambar jagad yang bentuknya bunder bola (globe). Padahal yang dia ketahui, entah tahu dari mana, al-Quran tak menjelaskan bentuk bumi semacam itu.

Saya tertegun. Di dalam al-Quran memang terdapat ayat “wa ilal ardhi kaifa suthikhat” (harfiyah: [tidakkah engkau perhatikan] bumi bagaimana ia dihamparkan). Sekilas dipahami secara lahiriah bahwa sesuatu yang dihamparkan itu pastilah berbentuk lembaran, semacam karpet atau tikar.

Dia menyimpulkan, NU tidak mengikuti ayat Quran, setidaknya dari aspek logonya. Bagaimana bisa dia, dari sudut pandang yang parsial, menilai dan menuding miring terhadap NU sedemikian dangkal?

Tersentak. Saya tertegun miris. Dia dulunya belajar di madrasah. Setelah lulus aliyah, dia mengaku bekerja di kota sambil sesekali ikut pengajian. Dugaan saya, barangkali dia ikut pengajian kelompok yang aneh-aneh, mungkin kelompok yang sering disebut-sebut: kaum bumi datar. hehehe..

Marilah kita mendekati persoalan ini. Berbicara tentang anak muda, kita tidak bisa menyalahkan begitu saja terhadap apa yang mereka pikirkan. Apa yang mereka lakukan. Masa muda itu masa-masa belajar. Masa-masa menginventarisir segala macam problem kehidupan. Masa muda itu masa eksperimen, masa-masa mereka mengalami sederetan pengalaman yang penuh trial-and-error (uji coba, salah, uji lagi, dicoba lagi, masih salah, diujicoba lagi..dst).

Kedua, berkenaan dengan bagaimana ayat al-Quran ditafsirkan, tentunya bukan persoalan gampang. Menafsirkan itu pekerjaan ruhani, yang melibatkan pikiran dan perasaan. Untuk menarik makna dan pelajaran hidup (i’tibar), proses menafsirkan selalu terkait pada waktu. Situasi hari ini, ingatan masa lalu, maupun imajinasi tentang masa depan ikut mewarnai.

Pada skala yang prinsipil, menafsirkan menjadi tindakan primordial seorang manusia. Tak aneh jika, berkenaan dengan dan terhadap hal apapun, menafsirkan itu “tindakan manusia yang paling eksistensial”. Dalam ungkapan filosofis: manusia itu makhluk yang senantiasa menafsir.

Di sisi lain, menafsirkan tidak bisa dibatasi hanya terhadap aspek lahiriah dari “teks” yang ditafsirkan. Hal itu bisa men-distorsi makna, bisa merusak rasionalitas, mencerabut makna dari latar belakang kemunculannya, dan sebagainya. Dus, diperlukanlah sebentuk lain dari tafsir, yaitu takwil (تأويل).

Dalam hal ini, baru saja saya dapatkan kitab yang menarik, “Asasut Taqdis” (artinya: “Prinsip Mengukuhkan Transendensi Ilahi). Isinya, meski tak semuanya, tentang mengurai sisi-sisi ambigu dari ayat Quran yang memerlukan penafsiran model ta’wil, terutama berkaitan dengan sifat-sifat Gusti Allah. Amat beresiko jika ayat-ayat ambigu itu ditafsirkan secara lahiriah, bisa menodai prinsip transendensi-ilahi (baca: kemahasucian Allah).

Penyusun “Asasut Taqdis” dikenal sebagai “Hujjatul Islam” (حجة الإسلام, argumentator Islam), begawannya para filsuf-teolog ahlus Sunnah wal Jama’ah: Fakhruddin ar-Razi. Tujuan beliau menyusun kitab ini tak lain untuk membantah golongan “Mujassimah” yang memahami bahwa Allah memiliki anggota-anggota tubuh, seperti wajah, tangan, kaki, duduk di singgasana, melihat dan menggenggam, marah dan senang, dan semacamnya. Golongan ini punya gagasan demikian karena memiliki model penafsiran yang lahiriah; tidak menakwil ayat, melainkan memahaminya secara tekstual.

Oke, jika pengalaman kita seremeh apapun menuntut untuk ditafsirkan dengan cara yang tepat, apalagi kitab suci! Pengalaman sendiri sih mudah, karena secara relatif kita sendiri yang mengalaminya.

Tapi kitab suci? Pernyataan-pernyataannya berkenaan dengan pengalaman hidup Kanjeng Nabi, dan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Kita tidak pernah mengalaminya. Itulah kenapa para ahli tafsir, sejak jaman kuno periode awal Islam di abad 7-8 sampai dewasa ini, menggariskan syarat-syarat yang ribet dan ketat yang harus dipenuhi untuk menafsirkan al-Quran.

Gugatan orang kepada saya itu menggambarkan betapa labilnya pemikiran keagamaan kaum muda umat Islam, bahkan mungkin yang kalangan tua juga. Kita harus maklumi. Kita harus peduli. Kecenderungan untuk membenturkan paradigma pemahaman agama dengan paradigma saintifik modern masih nge-trend. Seakan-akan dua paradigma itu harus dipilih mana yang benar karena keduanya tidak bisa didamaikan. Atau seakan-akan keduanya harus di-lebur-kan jadi satu untuk menjawab semua problem dari segala aspeknya, pada segala macam konteksnya, pada segala “maqom” dan situasi yang dihadapi manusia. Bahwa jika ayatnya berbunyi “wa ilal ardhi kaifa suthikhat” maka gambaran bola dunia harus ditolak, adalah kegagalpahaman akibat mendudukkan dua hal berbeda secara sembarangan.

Menurut saya, al-Quran bukanlah buku fisika. Diturunkannya al-Quran kepada kanjeng Nabi juga tidak bertujuan untuk meluruskan ilmu geografi yang berkembang di abad ke-7. Persoalan apakah bumi datar atau bulat seperti bola juga bukan problem yang ingin dijawab oleh al-Quran. Alasannya, problem yang mengitari turunnya Wahyu saat itu bukan problem saintifik, melainkan problem teologis (keimanan) dan moral manusia. al-Quran dibawa kanjeng Nabi untuk menegaskan misi kenabian “li utammima makarimal akhlaq”.

Karena itu, baik menafsirkan Quran semata-mata dengan paradigma keberagamaan yang tekstual-lahiriah ataupun dengan paradigma lahiriah modern (empirisisme) termasuk sikap lancang terhadap Quran. Kaum muda mestilah menjaga diri dari endemik keberagamaan macam ini. Jangan sampai kaum santri menjadi generasi muda yang labil pemikiran, rentan terhadap pemahaman yang menyimpang akibat gagal paham yang terus-terusan.

Wallahu a’lam…

Semoga kita termasuk kaum muda yang lurus dalam memahami kesucian dan ke-hanief-an ajaran Islam.

Leave a Response