Oleh : Nawa Muhammad

Kanjeng Nabi memiliki banyak sahabat dan santri dengan berbagai macam karakter. Ada yang kalem seperti Abu Bakar, temperamen tapi bijak seperti Umar, tajir melintir dan pemalu kaya Utsman, intelek, genius dan serius macem Ali bin Abi Thalib, dan ada juga santri yang (maaf) badung, usil, tapi lucunya gak ketulungan. Namanya Nu’aiman bin Amr al-Anshori. Dia dari kalangan BANSER (barisan ansorepun Rosululloh) yang ikut berperang membela beliau di Badar.

Tokoh kita kali ini memiliki tipikal usil dan suka ngerjain. Ngeselin tapi lucu. Dokumentator sejarah seperti Ibn Burhanuddin Al-Halbi dalam Sirohnya, Imam Ibn Hajar Al Asqolaniy dalam Al Ishobah menyebut saking lucunya Kanjeng Nabi bahkan bisa tersenyum hanya dengan melihat wajah Nu’aiman.

Dan saking usilnya, jangankan para Sahabat biasa, Sahabat elit seperti Utsman dan Ummul Mu’minin Aisyah pun pernah dicandain olehnya. Dan bahkan, Kanjeng Nabi pun pernah dikerjain oleh Nu’aiman. Jika lalu Kanjeng Nabi tidak marah ya karena Nabi, sebagai manusia, memang santai dan biasa-biasa saja. Kadang-kadang ya bercanda, kadang juga nongkrong, dsb.

Syahdan.. Suatu hari Kanjeng Nabi sedang ‘ngaji’ dengan para santri. Nuaiman datang dengan santun dan dengan gagah menyuguhkan cemilan aneka warna buat Nabi dan para santri untuk dinikmati sambil ngaji. Cemilan habis, ngaji selesai. Seseorang penunggu warung datang memberikan bill untuk dibayar Kanjeng Nabi. Nuaiman sudah ngumpet dan menahan geli.

Nabi memanggilnya: “Nu’aiman, ini ceritanya tadi kamu kasi hadiah ke kita atau gimana?”.

“Anu, Kanjeng Nabi.. Saya ingin engkau menikmatinya, tapi saya ga punya uang buat membayarnya”. Jawabnya ngeles.

Hahaha.. Usil sekali. Dan Nabi tertawa menahan geli, tidak menunjukkan kemarahan sama sekalu, lalu memerintahkan seorang sahabat membayarnya. Bayangkan bahwa Nabi adalah Nabi sekaligus Presiden, lalu dikerjain demikian dan ndak marah.

Di suatu hari, Abu bakar melakukan ekspedisi perdagangan. Nuaiman termasuk dalam kafilah itu. Sampai di suatu tempat istirahat, perutnya keroncongan. Ia datang ke bagian penanggung jawab logistik. Namanya Suwaibith, dalam riwayat lain disebut Salith.

NM: Suwaibith, minta makan dong. Laper nih..
SW: Ntar dulu, nunggu Abu bakar datang.

Berkali-kali Nuaiman melobi, tapi Suwaibith selalu memberikan jawaban yang sama. Karena dongkol dia lalu mengancam Suwaibith. “Awas ente…” ancam Nuaiman.

Syahdan, sampailah kafilah di tempat tujuan. Nuaiman masuk ke pasar dan memberikan woro-woro:

“Saya punya budak gagah pilihan tapi ingin saya jual murah. Saya sudah capek ngurusnya. Dia budak tapi selalu bergaya bukan budak. Barangkali jika nanti setelah kalian beli lalu dia bilang saya bukan budak, maka jangan kaget karena itulah kebiasaannya”.

Singkat cerita, ada juga yang termakan propaganda Nuaiman dan lalu bersepakat dengan harga murah. Nuaiman lalu membawa pembelinya ke Suwaibith. Si pembeli menarik tangan Suwaibith: Ayo ikut, aku sudah membelimu.

Suwaibith bingung dengan apa yang terjadi, sementara Nuaiman hanya stay cool. Suwaibith meronta dan teriak: “Aku bukan budak, kalian ditipu”.

Si pembeli yang telanjur termakan agitasi Nuaiman sebelumnya lalu mengkerangkeng lehernya dengan dibantu beberapa anak buah. Suwaibith ditarik-tarik sebagai budak belian.

Datanglah Abu Bakar, mengetahui kejadian itu, ia hanya senyum-senyum menahan tawa dan lalu menjelaskan kejadian sebenarnya.

Sepulang dari ekspedisi dagang tersebut, seseorang menceritakan kejadian Nuaiman ngusilin Suwaibith pada Kanjeng Nabi. Nabi dan para Sahabat yang mendengarkan cerita itu sontak tertawa.

Dalam riwayat Hadist disebut, sejak saat itu hingga setahun lamanya, jika Kanjeng Nabi ingat cerita itu beliau pasti selalu tertawa.

Leave a Response