Sebuah Catatan dari Cakraningrat

Diskursus Media; Sebuah Reportase. OS 15

ObrolanSantri edisi 15 | oleh : Kang Gong Cholili

Kemajuan teknologi telah mendorong media semakin maju dan mengambil peran penting di tengah kehidupan masyarakat. Disadari atau tidak, media telah “ikut campur” dalam kehidupan kita. Keikutcampuran media dalam keseharian diinterpretasikan sebagai kemampuan media mempengaruhi opini masyarakat. Bahwa wajah sebuah media sebenarnya adalah cerminan wajah masyarakatnya.

Media sering terjebak dan tunduk begitu saja kepada pasar yang membuatnya kehilangan wajah idealis demi kepentingan praktis. Terjadi Pergeseran peran dan fungsi media. Yang awalnya diharapkan menjadi penyampai informasi, kini kerap menjadi alat propaganda bagi pembentukan opini publik. Setidaknya, media turut mempengaruhi trend dalam kehidupan masyarakat. Netralitas informasi yang disajikan menjadi tergantung pada “pemiliknya”.

Di sinilah media menjadi sangat bervariasi. Kita bisa tersenyum melihat sebuah peristiwa yang sama tetapi diinformasikan secara berbeda oleh beberapa media, bahkan berlawanan. Konon di Korea Utara mampu memberitakan dan memvisualisasikan Timnasnya menjadi juara dunia setelah mengalahkan tim tangguh Brazil. Sayangnya, variasi media kadang berbanding terbalik dengan apa yang dihasilkannya.

Obyektifitas media memang tidak sama dengan netralitas. Media harus obyektif meski tak harus netral. Hal ini demi terjaganya independensi media. Eksplorasi atau mungkin eksploitasi media bisa saja dianggap mengancam cara pandang obyektif masyarakat. Ini pula yang dimanfaatkan oleh beberapa kelompok, media berfungsi sebagai “penyebar pemikiran-pemikiran tertentu” untuk memenangkan kepentingan atau persaingan. Padahal buat apa menang jika harus ada yang dikalahkan?

Ada yang menyebut: biarkanlah semua berproses seperti air mengalir, ujungnya air tersebut berbentuk gelas, botol, ataupun telaga. Masyarakat akan semakin cerdas menilai apakah media menyajikan realitas atau rekayasa, menyampaikan fakta atau fiktif. Jika sebuah media hanya menyampaikan rekayasa dan fiksi saja apakah bisa disebut sebagai media?

Media adalah alat yang tentunya sangat tergantung dengan penggunanya. Seperti ungkapan “litle boy with a hammer”, jika palu diserahkan kepada anak kecil maka akan ada banyak kekacauan. Ia akan memukul apa saja yang dilihatnya, karena tidak mengerti fungsi palu. Atau dalam bahasa santri “jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya”.

Masyarakat tidak dapat mengelak dari serbuan media-media informasi dan teknologi, karena merupakan keniscayaan. Mereka yang tidak siap akan terombang-ambing oleh gelombang media informasi dan teknologi, hanya menjadi korban dan objek kemajuan teknologi. Bermanfaat ataukah mendatangkan madlarat media itu, tergantung pada kita. Di tangan aparat, senjata menjadi pengayom masyarakat. Sebaliknya, di tangan penjahat senjata menjadi yang meresahkan masyarakat.

Mungkin sebagian dari kita latah, selalu bersikap pesimis bahwa kita sulit maju, sehingga menganggap semua yang dari luar adalah baik, cenderung melihat “rumput tetangga lebih hijau dari yang kita miliki”. Kita menjadi sangat menyukai yang instan, bukan yang mentradisi, dan terlalu gampang dipengaruhi karena kebiasan KGB (Kagetan, Gumunan, dan Bangeten). Lalu kita menjadi sangat materialis, apapun dihitung secara finansial, melebihi perhatian dan shodaqoh sosial yang telah dilakukan bertahun tahun.

Soal pemanfaatan media, kita telah dicerdaskan oleh para Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga yang memanfaatkan gamelan dan wayang kulit sebagai media da’wah beliau. Pengetahuan R. Syahid terhadap budaya dan tradisi Jawa yang sangat luas menjadikan beliau tampak mudah “menyatukan” ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. (literasi tentang walisanga disebutkan oleh Agus Sunyoto terdapat di perpustakaan Belanda dan Vatikan).

Artinya, tentang cara memahami media bukanlah hal baru bagi masyarakat. Asal terbiasa melakukan tabayyun/klarifikasi, komprehenship dalam membaca informasi, dan tidak mudah terpancing oleh provokasi (emosional), kita akan mampu memanfaatkan media untuk menggali dan mengembangkan potensi kita.

Leave a Response