Rembang Bangkit atau Rembang Madani?

Rembang Bangkit atau Rembang Madani?

TOR ObrolanSantri | Sabtu, 12 Maret 2016 | Mushola Al-Fattah Sawahan Rembang

Rembang, kota dan daerah yg kita mukimi ini, punya banyak sebutan: kota garam, kota kawis, kota Dampo Awang. Atau bumi Kartini. Nama bukan soal bungkus semata. Dengan sederet sebutan itu–meski tak secara luas terkenal–kota ini bisa dikenal.

Kini muncul wacana untuk mengubah slogan. Setelah 25tahun lebih kita menyebut “Rembang Bangkit”, ada rencana untuk diubah jadi “Rembang Madani”. Sama halnya dengan “bangkit”, “madani” juga adalah akronim utk menyingkat “mandiri, aman, damai, amanah, nyaman, (ber)iman”.

Merupakan konsep yg berasal dr kata “madinah” (kota), konsep “madani” berarti “bersifat kota, maju, berbudaya tinggi” sbg lawan kata dari “badawi” yg artinya “udik, ndeso, berbudaya rendah”, dan sebagainya.

Wacana mengubah slogan ini seturut dengan munculnya pemimpin baru. Mungkin pak Bupati (yg baru) berpikir, slogan “bangkit” sudah tak relevan, fase/periode kebangkitan itu sudah lewat. Rencana berikutnya, setelah “bangkit”, hrs segera disusun, dalam sebuah cita-cita untuk ber-madani.

Pertanyaannya, apakah slogan itu penting? Sejauh apa visi&misi pemimpin baru membawa Rembang kita ini lbh baik? Tapi, ada “sesuatu” yg aneh, nama “madani” dipilih secara sepihak, tidak menyerap aspirasi masyarakat. Padahal slogan ini tampaknya lebih bersifat “slogan sbg simbol/identitas budaya”, bukan slogan utk program pemda di era sang pemimpin baru ini. Apakah setiap muncul pemimpin baru, lantas slogannya juga baru?

Rembang mengalami banyak perubahan. Banyak tantangan. Potensinya juga besar. Banyak masalah yg belum terselesaikan, yg tidak mungkin beres hanya dengan mengganti slogan. Ada politik penamaan di balik wacana ini. Bukan dalam arti negatif, guna mencari legitimasi imajiner, tapi sebagai sebuah cara menghimpun antusiasme seluas mungkin. Inilah peran psikologis dari slogan baru yang akan dipakai, jika memang goal.

Daripada sekadar mengganti slogan, mending wacana ini dipertajam untuk orientasi pengembangan pariwisata, dengan cara menciptakan “city branding”. Seperti brand “Jogja: never ending Asia” dengan slogan “Jogja berhati nyaman”. Mungkin Rembang tetap “bangkit” sekaligus punya city brand “Rembang: never ending ngopi” atau “Rembang: never ending miyang”, atau apa lah…

Mari kita obrolkan dengan gayeng, nanti malam di ObrolanSantri… tabik!

Leave a Response